Search
Minggu 14 Juli 2024
  • :
  • :

Cyber War Indonesia – Australia Bisa Jadi Tak Terhindarkan

MAJALAH ICT – Jakarta. Perang cyber tak terhindarkan antara Indonesia dan Australia. Perang tersebut bisa saja lebih ngeri dan berbahaya daripada perang fisik, karena bisa langsung menyerang ke infrastruktur strategis dan melumpuhkan fungsi- fungsi negara.

Kita ingat Estonia yang pernah diserang hacker dari Rusia hingga melumpuhkan negara itu, mulai dari sistem di perbankan yang mati, pelayanan publik pemerintah, dan lainnya.

Berawal dari penyadapan yang dilakukan negara Kanguru tersebut kepada jaringan internet dan komunikasi Indonesia lewat jaringan serat optik dan satelit Palapa, ditambah dengan kurang responsifnya pemerintah Indonesia dalam memprotes hal tersebut, sejumlah kelompok hacker pun melakukan serangan secara serentak.

"Siapkan diri kalian !!, sekitar jam 20.00 WIB kita akan kembali mengadakan serangan kembali lewat kampanye #StopSpyingOnIndonesian. Target akan kami umumkan. Untuk tolls dan lain-lainnya akan kami kirim segera,” ungkap dedengkot hacker Indonesia, Om-Jin.

Menurut Om-Jin, dalam serangan ini tidak untuk mencari ketenaran, karena semua hacker dianggap sama. “Kita hanya membuktikan kepada seluruh masyarakat Indonesia bahwa hacker, DDoser, Caridinger, atau terserah orang mengatakan apa, hanya melakukan serangan ini agar privacy Indonesia tidak terusik,” ungkapnya.

Sepertinya baru kali ini, rencana penyerangan terhadap situs tertentu dilakukan secara terbuka, sehingga memberikan kesempatan pihak yang akan diserang untuk mempersiapkan pertahanannya.

Tak pelak lagi, sejumlah situs penting pemerintahan Australia pun lumpuh, seperti http://asis.gov.au dan http://asio.gov.au. Sebelum serangan pada 9 November, hacker Indonesia menyerang secara acak sehingga banyak situs Australia yang tida bersalah menjadi korban. Hal ini menimbulkan protes dari kalangan hacker Australia yang tergabung dalam Anonymous Australia.

Serangan balasan pun dilancarkan Australia dan menimbulkan korban pada situs milik Kementerian Hukum dan HAM yang beralamat di www.kemenkumham.go.id.

Menurut Pengamat Telematika, Heru Sutadi, di saat perang siber atau cyber war seperti yang terjadi sekarang ini, yang perlu diwaspadai dan jadi perhatian adalah serangan balik, artinya Indonesia sudah

harus siap menghadapi cyber war yang terjadi. “Ini merupakan warning bagi seluruh situs pemerintahan dan militer untuk menjaga sistem informasi dan komunikasi secara aman. Back up semua data, dan siapkan tim yang memantau detik per detik situs setidaknya sampai warning ini dicabut, sehingga bila ada serangan dapat segera ditanggulangi,” harap Heru.

Dikatakannya, perang cyber ini laksana bermain bola. “Jika hacker-hacker itu menyerang situs negara lain, ibarat bermain sepak bola, back dan kiper juga harus siap. Sebab jika penyerang gagal, dan terjadi serangan balik, maka kita sendiri yang akan kebobolan habis- habisan. Apalagi diketahui, situs-situs pemerintah dan militer di Indonesia sendiri tidak terlalu kuat dan sudah sering juga dijebol hacker,” kata Heru.

Tulisan ini dan informasi-informasi mengenai perkembangan ICT Indonesia lainnya dapat dibaca di Majalah ICT Edisi No. 18-2013 di sini