Search
Senin 10 Mei 2021
  • :
  • :

Dijajah Konten Asing, Operator Diam Saja

MAJALAH ICT – Jakarta. Anggota Badan Regulasi Telekomunikasi Nonot Harsono menyayangkan operator telekomunikasi yang diam saja meski jaringannya dipakai penyedia konten asing atau over the top (OTT).

"Regulator tak bisa apa-apa kalau operatornya diam saja alias nrimo, nanti malah ternyata kesenangan kan regulator yang disalahkan kalau ikut cawe-cawe," tuturnya.

Nonot mengungkapkan penyebab turunnya kinerja operator karena tak siap dalam strategi penarifan seiring meningkatnya layanan data dari penyedia konten luar negeri dan menurunnya suara, bukannya regulasi.

“Kenapa harus menduga-duga atau merajuk bahwa regulasi tidak mendukung, dijajah diam saja, maka tunggulah kebaikan hati penjajah seperti menunggu langit runtuh,” tuturnya.

Pemerintah dan regulator disalahkan terhadap turunnya kinerja keuangan operator telekomunikasi yang tercermin dari laporan keuangan perusahaan pada kuartal I /2013.

Sutrisman dari Asosiasi Telekomunikasi Seluler Indonesia (ATSI) menilai tarif interkoneksi masih terlalu tinggi, sementara biaya regulasi juga sangat tinggi dengan jenis yang beragam. "Ini memberatkan operator, terutama operator di luar tiga besar," katanya.

Wakil Ketua Komite Tetap Bidang TI Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia Teguh Anantawikrama mengungkapkan regulatory charges berupa pungutan di daerah, biaya frekuensi, dan biaya lainnya sudah terlalu tinggi.

“Seyogyanya selalu diberikan insentif bagi operator telekomunikasi untuk membangun, dan bukannya disinsentif,” ujarnya.

Menurut dia, regulator juga seharusnya menciptakan iklim dimana operator tidak saling membunuh soal tariff, dan untuk itu harus ada kajian daya dukung ekonomi Indonesia terhadapa jumlah operator telekomunikasi, karena sangat menentukan apakah ekosistemnya akan sehat atau tidak.




Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *