Search
Senin 15 Juli 2024
  • :
  • :

Indonesia Dijajah OTT

MAJALAH ICT – Jakarta. Isu over the top (OTT) ternyata telah menjadi isu Asia Pasifik dan telah menjadi topik pembica­raan utama di konferensi Negara-negara Asia Pasifik Asia Pacific Economic Cooperation Tele­communications (Apectel) di Bali, belum lama ini. Pemerintah Indonesia pun menyatakan keseriusannya membahas tantangan kehadiran aplikasi OTT terkait dengan adanya dorongan memperkuat National Broadband Plan. Ibaratnya buah simalakama, inginnya memperkuat broadband, tapi yang tertawa dan berjaya adalah pemain OTT asing.

Dijajah pemain OTT asing, itulah gambaran jaringan dan frekuensi di langit Indonesia. Permasalahan OTT ternyata tak hanya dialami Indonesia saja. Saat ini semua negara di dunia mendorong kemajuan National Broadband Plan dan mempromosikan jaringan Internet pita lebar tersebut, baik dari broadband tetap atau mobile.

Karena beberapa studi telah menunjukkan bahwa pertumbuhan Broadband akan mempercepat pertumbuhan ekonomi bangsa.

Seperti misalnya studi Bank Dunia pada 2009 menyatakan bahwa pertumbuhan penetrasi 10% di Broadband akan meningkatkan pertumbuhan ekonomi sebesar 1,38% di negara berkembang dan 1,12% di negara maju.

""Akankah fenomena tumbuh dari apa yang kita disebut “Over-The-Top” aplikasi yang dihasilkan oleh Content Providers global akan mengganggu harapan ini? Itulah pertanyaan yang selalu menghantui pra pemerhati telekomunikasi Indonesia, terutama yang nasionalis.

OTT adalah pemain yang identik sebagai pengisi pipa data milik operator yang dianggap sebagai bahaya laten bagi para operator, karena tidak mengeluarkan investasi besar, namun mengeruk keuntungan di atas jaringan milik operator.

Pemain OTT yang terkenal di antaranya Google, Microsoft, Apple, Yahoo, Facebook, Research In Motion, dan lainnya. Ada dua jenis aplikasi OTT yang diinstal aftermarket seperti Skype, Viber dan WhatsApp, dan mereka yang ditawarkan oleh produsen sistem operasi seperti iMessage, Google Talk, Yahoo Messenger.

Pada 5 tahun sebelumnya, kehadiran aplikasi OTT belum dirasakan oleh operator telekomunikasi. Saat itu operator masih menikmati pertumbuhan tinggi suara dan lalu lintas SMS dan pendapatan.

Tekanan operator mulai muncul seiring dengan perkembangan Wi-Fi dan meningkatnya kemampuan 4G atau LTE menyebabkan persaingan memanas. Operator perlu dengan cepat memutuskan bagaimana mereka menanggapi perkembangan tersebut terkait lanskap telepon seluler di ekonomi APEC, terutama upaya meningkatkan SMS dan voice.

Kita lihat saja, apakah pembangunan broadband bisa dinikmati bangsa ini atau kah hanya menjadi makanan empuk penyedia aplikasi luar negeri. (@arifpitoyo)

Tulisan ini dan informasi-informasi mengenai perkembangan ICT Indonesia lainnya dapat dibaca di Majalah ICT Edisi No. 9-2013 di sini