Search
Senin 15 Juli 2024
  • :
  • :

Industri Telekomunikasi Sudah Tidak Sehat

MAJALAH ICT – Jakarta. Industri telekomunikasi saat ini dinilai sudah tidak sehat. Demikian rangkuman hasil diskusi bertajuk "Spirit Berbagi dan Mencari Keadilan di Industri" yang diadakan di Balai Kartini Jakarta, yang menghadirkan pembicara Ketua Asosiasi Telekomunikasi Seluler Indonesia (ATSI) Alex J. Sinaga yang juga Direktur Utama Telkomsel, Dirut XL Hasnul Suhaemi, Direktur Indosat Fadzri Sentosa serta dari pemerintah Dirjen SDPPI Kementerian Kominfo M. Budi Setiawan.

Tidak sehatnya industri telekomunikasi ditengarai karena jumlah operator yang saat ini terlalu banyak. Menurut Alex, di lapangan sudah ada 12 operator yang menawarkan tarif hingga saat ini Indonesia menjadi negara termurah memberikan tarif di regional kepada penggunanya. Alhasil, tidak semua operator mendapat keuntungan sebagaimana diharapkan. "EBITDA margin operator bergerak dari titik positif hingga negatif "EBIDTA margin ada yang +56% hingga ada yang -50%," jelas Alex. Ini adalah sinyal selain ada yang untung, tidak banyak pula operator yang merugi.

Sementara itu, Budi Setiawan menyoroti perkembangan pengguna data yang meningkat dan pengguna telekomunikasi secara keseluruhan industri yang sudah mencapai 120%, membuat beberapa operator masuk dalam zone merah alokasi frekuensi, maksudnya operator tersebut kekurangan frekuensi sehingga perlu penambahan alokasi dari pemerintah. 

"Telkomsel, XL, Indosat, masuk dalam zone merah. Sementara lainnya, seperti Huthchison, Axis masuk zone hijau dan dirasa masih berlebih frekuensinya," ungkap Budi. 

Menurut Muhammad Budi Setiawan, jika melihat penguasaan pasar lima operator jaringan 3G di Indonesia, Telkomsel kata Dirjen menguasai market share pelanggan 42%, Indosat 16,7%, XL Axiata 15,9%, Hutchison 3 Indonesia (Tri) 5,4%, dan Axis Telekom Indonesia 2,1%. 

Hasnul Suhaemi menyoroti, dengan kondisi yang tidak semua untung, saat yang tepat untuk berbagi jaringan. "Operator yang pertama akan mendapat 60% pasar, yang berikut paling 20%, karena pasar kecil mengapa harus semua membangun," kata Hasnul. Maksudnya, spirit berbagi harus di kedepankan untuk daerah-daerah yang memang secara pasar tidak besar.

Selain itu, Hasnul juga mengungkapkan bahwa berbagi network dapat menghemat biaya untuk pembangunan jarigan. "Berbagi dengan dua operator bisa menghemat 40%, dengan tiga operator bisa menghemar 60%," ungkap Hasnul.

Dengan jumlah operator yang baik, ATSI mengatakan bahwa konsolidasi tidak bisa dihindari, dan ATSI berharap julmlah operator dapat dibatas antara 4-5 operator saja. "Jumlah operator cukup 4-5 saja," kata Alex.m