Search
Rabu 12 Agustus 2020
  • :
  • :

Jadi Desa Nontunai, Warga Pegagan Kidul Cukup Gunakan Kartu Uang Elektronik Untuk Belanja Di Warung Tetangga

MAJALAH ICT – Jakarta. Tak lama lagi, masyarakatDesa Pegagan Kidul, Kecamatan Kapetakaan, KabupatenCirebon akan dapat membayar dengan uang elektronik saatbertransaksi di toko-toko keperluan sehari-hari dekat tempat tinggal mereka. Pasalnya, Desa ini telah ditetapkan menjadi Proyek Percontohan Percepatan Keuangan Inklusif Menuju Desa Juara Lahir Batin.

“Kami berinisiatif menciptakan ekosistem pembayaran nontunai secara keseluruhan dengan dukungan Bank Dunia atas kerja sama dengan Tim Percepatan Akses Keuangan Daerah (TPAKD) Provinsi Jawa Barat melalui sebuah proyek percontohan percepatan keuangan,” tutur Head of Project Management Office Sekretariat Dewan Nasional Keuangan Inklusif (DNKI), Djauhari Sitorus dalam acara Peluncuran Proyek Percontohan Percepatan Keuangan Inklusif Menuju Desa Juara Lahir Batin, Cirebon.

Proyek percontohan ini merupakan salah satu upaya pemerintah mendorong lebih banyak lagimasyarakat yang memilikidan menggunakan produk dan layanan keuangan formal gunameningkatkan kesejahteraan masyarakat. Proyekini juga sejalan dengan program kerja TPAKD Jabar yang mendukung program #DesaJuara Pemerintah Provinsi Jawa Barat, khususnyadi area percepatan keuangan inklusif.

“Pada tahap awal uang elektronik sudah dapat digunakan di tiga toko yang berjarak sekitar satu kilometer jauhnya dari desa mereka,” tutur Djauhari. Selanjutnya pihaknyaakan menyiapkan 10 toko di dalam desa guna melayani pembayaran nontunai berbasis QR code.

Desa Pegagan Kidul dihuni 1.873 rumah tangga dan 3.142 keluarga ini terletak di Kecamatan Kapetakaan pada Kabupaten Cirebon. Mayoritas rumah tangga beranggotakan sedikitnya satu pekerja migran luar negeri atau pekerja migran domestik, dan banyak yang masih menerima Bantuan Pangan NonTunai (BPNT) atau bantuan Program Keluarga Harapan (PKH).

Pendapatan mayoritas rumah tangganyatak lebih dari 5 juta per bulan, dan masih ada yang tidak memiliki Surat Hak Milik (SHM) atas nama pribadi. Selain itu, masih ada 639 rumah tangga yang tidak memiliki rekening bank alias unbanked, namun memilih untuk menyimpan tabungannya secara informal.

Padahal, menurut Djauhari, masyarakat dapat bertransaksi dengan lebih aman dan lebih murah dengan uang elektronik. “Resikonya pun terbilang lebih kecil terhadap adanya bencana alam maupun kejahatan dengan menyimpan uang di perusahaan tekfin maupun perbankan,” lanjut Djauhari.

Tak hanya bagi pembeli, pelaku usaha mikro dan kecil juga diuntungkan dengan pembayaran nontunai. Terlebihsejumlah penyedia jasa seperti LinkAja, DANA, BRI, BNI, Mandiri dan Bank Jabar Banten menyatakan kesiapannyauntuk mendukung rencana DNKI.

“Seluruh transaksi non-tunai ini dapat digunakan sebagai dasar penilaian kelayakan kredit. Ini akan menguntungkan pelaku usaha, karena mereka bisa mendapat berbagai opsi pembiayaan baru”, tutur Djauhari.

Dalam proyek ini warga Desa juga akan diundang untuk berpartisipasi dalam sebuah kegiatan product matching pinjaman mikro bersama PT PNM dan PT Pegadaian sebagai upaya pengembangan usaha.

Dalam enam pertemuan selama tiga hari, sebanyak total 30 rumah tangga akan diedukasi mengenai pinjaman lembaga keuangan formal, mengenai jenis-jenis pinjaman serta skema dan syarat peminjamannya. “Inilah kesempatan emas yang dapat dimanfaatkan warga setempat untuk dapat meminjam dengan mudah, aman dan nyaman,” ujarnya.

Sebagai penutup, Djauhari berharap bahwa kegiatan ini dapat membantu masyarakat Desa Pegagan Kidul dan kelompok Pekerja Migran Indonesia (PMI) untuk mengoptimalkan produk layanan keuangan formal yang ada sesuai kebutuhan demi meningkatkan kesejahteraan mereka. “Program ini juga diharapkan dapat dijadikan contoh agar dapat diterapkan oleh TPAKD Jabar di lokasi lain di Jawa Barat dan oleh SNKI di provinsi lain di Indonesia,” imbuhnya.

Sebagai informasi, proyek percontohan ini ditujukan kepada seluruh warga desa, terutama Pekerja Migran Indonesia (PMI) dan PMI purna, bekerja sama dengan beberapa mitra industri keuangan. Merekaakan dikenalkan ke berbagai produk dan layanan keuangan sesuai dengan kebutuhan mereka, seperti tabungan, tabungan emas, asuransi kesehatan, dana pensiun, pinjaman mikro, dan uang elektronik.

 

Loading...




Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *