Search
Minggu 16 Juni 2024
  • :
  • :

Jangan Gadaikan NKRI dengan Mengangkat Jack Ma Sebagai Penasihat E-Commerce

MAJALAH ICT – Jakarta. Chairman Mastel Institute Nonot Harsono menyoroti secara tajam didapuknya Jack Ma sebagai Penasihat E-Commerce Indonesia. Termasuk juga pernyataan Menkominfo Rudiantara yang menyatakan hubungan Google dan Indonesia seperti sepasang suami-istri. Menurutnya, jangan melihat digitalisasi dipandang dari sisi ekonomi saja, namun juga harus melihat dari sisi lain yang lebih luas, termasuk apakah menggadaikan NKRI dengan dalam era globalisasi online seperti ini.

"Dari sudut pandang ekonomi, berita tentang Jack Ma sebagai penasihat e-commerce indonesia sangat bagus. Demikian pula berita tentang Google dan Indonesia adalah Suami-Istri. Tetapi urusan negara bukan hanya bidang ekonomi, urusan negara mencakup urusan IPOLEKSOSBUD HANKAMNAS (ideologi, politik, ekonomi, sosial, budaya, pertahanan dan keamanan nasional-red.). Juga harus diperhatikan mengenai eksistensi NKRI (Negara Kesatuan Republik Indonesia-red.) dalam era globalisasi online ini," kata Nonot kepada Majalah ICT.

Ditandaskan oleh mantan Anggota Badan Regulasi Telekomunikasi Indonesia (BRTI) ini, satu hal yang amat perlu disadari oleh para pemimpin di Trias Politika (eksekutif, legislatif, yudikatif) plus MPR adalah pergeseran peradaban yang sangat mendasar dari kehidupan fisik tatap muka menjadi kehidupan online atau kehidupan dunia maya (cyber world).

"Contoh sederhana, sekarang bingung cari pemasukan APBN lewat Tax Amnesty, tetapi tampak belum menyadari bahwa sebentar lagi globalisasi online atau online-free-trade bisa melenyapkan obyek pajak dari arus perdagangan barang dan jasa," ujarnya.

Nonot memaparkan, kolaborasi dengan Alibaba bagus dengan langkah nyata meminta Alibaba memuat sebanyak mungkin toko online atau UKM indonesia. "Tetapi meminta Jack Ma menjadi adviser dalam jajaran eksekutif itu harus memperhatikan masalah martabat dan aspek kedaulatan," tegasnya. Nonot menganalogikan bahwa TNI tidak boleh masuk Filipina untuk bebaskan sandera karena simbol kedaulatan. "Jack Ma diminta masuk dlm urusan eksekutif dalam negeri apakah tidak dianalogikan dengan masuknya tentara asing ke dalam wilayah NKRI," tanyanya.

Menurut Nonot, untuk memajukan e-commerce mestinya bisa dengan hanya merangkum kisah sukses dan kisah gagal, dari Alibaba dan Apps or Pasar-online lainnya. Atau membentuk kerjasama atau global-partnership yg mutual respect dan mutual benefit. "Misalnya membangun Join-Market-Place atau Pasar Online Bersama antara Indonesia dan China. Semua UKM indonesia terpampang di Alibaba, berdampingan dgn UKM China. Warga China bisa mengakses UKM indonesia dan demikian sebaliknya," ujarnya.

Sehingga, lanjut Nonot, meski nampak baik-baik saja Jack Ma diminta menjadi adviser Pemerintah, tetapi dalam konsep bernegara ke depan, yang mesti menjadi perhatian adalah NKRI. "Apakah NKRI masih ada. Apakah Pemerintah akan masih pegang kendali atas kehidupan online? Jika tidak punya kendali atas kehidupan online karena semua dikendalikan dari Luar negeri, apakah Negara masih bisa disebut berdaulat?" tandas Nonot.

Nonot juga menyarankan agar para pemimpin harus punya konsep tentang kehidupan Online ini. Bukan anti asing, katanya, tapi pikirkan konsep kerjasama global seperti apa yang tetap dapat menjaga keberadaan NKRI di dunia cyber atau dunia online.