Search
Selasa 20 Januari 2026
  • :
  • :

Kehidupan Digital Merambah Perkotaan

MAJALAH ICT – Kota besar selalu identik dengan kehidupan yang sibuk, macet, crowded, polusi, banjir, dan lainnya. Hal itu membuat kota besar seperti Jakarta menjadi seperti neraka bila harus melakukan perjalanan, bekerja setiap hari ke jantung kota.

Mungkin tak pernah terbayangkan oleh sebagian besar orang tua kita bahwa bekerja tak identik dengan berkantor seperti zaman dahulu.

Dulu,  menyandang gelar sebagai karyawan dan pekerja kantoran sangat bergengsi bagi status sosial di masyarakat, berbeda bila bekerja dari rumah, yang mana meski bekerja dan menghasilkan banyak uang, tetap saja disebut sebagai pengangguran.

Namun, di masa sekarang sejumlah kantor dan berbagai jenis pekerjaan tak perlu lagi dituntut untuk datang ke kantor, melainkan target pencapaian kinerja atau output yang diukur perusahaan.

Bahkan boleh dibilang, saat ini pekerjaan yang bisa dilakukan secara mobile terasa lebih bergengsi dibandingkan lewat kantor, karena para pekerja bisa lebih produktif menghasilkan output bagi perusahaannya.

Terlihat di kota-kota besar, banyak professional yang memiliki mobilitas tinggi, meski memiliki kantor sering meninggalkan kantornya sambil ngopi di kafe dan ngobrol tentang bisnis dan pekerjaan, dan tak lupa membawa perangkat mobile seperti laptop atau tablet. 

Bahkan tak jarang pula kaum profesional mengerjakan pekerjaannya dari rumah, dan hanya sesekali bertemu rekan kerjanya di kantor atau tempat lainnya untuk meeting atau mempertajam keputusan bisnis.

Laptop, tablet, notebook, netbook, smartphone, handphone menjadi peralatan yang sangat lumrah bagi para profesional tersebut, dan tak lupa akses internet yang kencang dan stabil, yang tentunya sangat dibutuhkan bila profesional tersebut mengerjakan tugasnya di rumah.

Komunikasi yang intens menjadi ciri khas dari para profesional ini, email traffic di berbagai mailing list, chatting pada berbagai online messaging, maupun video conference dengan relasi maupun rekan kerja menjadi pekerjaan sehari-hari. Bahkan sebagian besar berkas pekerjaan-pun banyak dikirim dalam bentuk attachment di e-mail.

Harus di akui bahwa biasanya ada ketakutan mendasar pada sebagian besar orang untuk mengadopsi gaya hidup dunia cyber yang tidak bertumpu pada konsep lama dalam bekerja yang biasanya bertumpu pada pekerjaan perkantoran atau menjadi pegawai tetap.

Ketakutan bahwa tidak ada penghasilan tetap dan ketakutan tidak ada pengakuan status oleh masyarakat.

Khusus di rumah, para profesional tersebut wajib menjadikan rumahnya sebagai rumah digital, sebagai penunjang pekerjaan dan hiburan mereka. Tak jarang sebagian besar peralatan rumah tangga mereka terakses internet atau memiliki IP address, seperti CCTV, kulkas, pintu pagar, pintu utama, lampu, dan masih banyak lagi.

Gaya hidup profesional zaman sekarang, perkakas rumah tangga tersebut bisa dikendalikan dari jauh, melalui akses internet sehingga kaum profesional tetap dapat mengendalikan dan mengawasi rumahnya dari jauh.

Bila sedang bekerja di rumah, akses internet minimal 3 Mbps harus tersedia, terutama untuk menunjang berbagai layanan chatting, video conference, dan hiburan secara bersamaan. Apalagi, kini ada sejumlah operator seperti Telkom yang juga menyediakan televisi berbasis internet seperti Usee TV.

"useeTV

"INDIHome telah menjadi tren baru masyarakat perkotaan baik yang tinggal di apartemen maupun perumahan, karena koneksi internet Speedy minimal 3 Mbps bisa mempermudah pekerjaan di rumah sekaligus akses hiburan melalui Usee TV,” ujar EGM Divisi Telkom Barat Prasabri Pesti, kepada merdeka.com, belum lama ini.

Tantangan menuju rumah pintar, tak terlepas dari jaringan backbone berupa serat optic di belakangnya. Pembangunannya terkadang terbentur dengan peraturan pemda maupun protes dari masyarakat yang dilalui, karena itu lah butuh fasilitas dari Kominfo untuk mewujudkannya.

Jaringan serat optik tersebut bisa diibaratkan sebagai jalan maya yang kelak bakal bisa menggantikan jalan fisik karena menurut sejumlah pengamat, Jakarta bakal stag atau macet total pada 2025, apalagi mobil murah makin membanjiri jalanan ibu kota yang menjadikannya makin crowded.

Perlu sinergi antara Kominfo, Kementerian PU, dan Kementerian Dalam Negeri dalam mewujudkan rumah pintar dan kota pintar, karena diyakini bisa menunjang perekonomian nasional.