Search
Rabu 20 Januari 2021
  • :
  • :

Kenalkan Konsep Respond, Recover dan Reimagine, Perusahaan Teknologi Analitik SAS Perkuat Lembaga Pemerintah

MAJALAH ICT – Jakarta. Pandemi telah membawa perubahan pada cara hidup masyarakat dari mulai petugas kesehatan hingga karyawan kantor. Melalui analisis yang mendalam, lembaga pemerintah tidak saja dapat menanggapi keadaan darurat, namun juga dapat bertindak untuk menjamin bahwa rencana kebijakan dan eksekusi kebijakan dapat menghasilkan dampak positif bagi warga negara.

Menurut Managing Director SAS Indonesia Febrianto Siboro, teknologi analitik dapat menginformasikan strategi dan kebijakan yang perlu diambil dengan memberikan pemahaman holistik tentang lingkungan. Pemerintah akan membutuhkan kerangka kerja strategis untuk mengarahkan negara keluar dari krisis ini.

”Saat kita mampu keluar dari pandemi dan menilai dampak yang telah terjadi, teknologi analitik dapat membantu proses pemulihan. Melalui kerangka kerja tiga fase, jika diterapkan pada setiap keputusan lembaga pemerintah, dapat memandu para pemegang kebijakan dalam membuat keputusan penting,” tuturnya.

Konsep yang diperkenalkan disebut Febrianto adalah Respond, Recover, dan Reimagine. Ketika pemerintah menanggapi krisis saat pertama kali muncul, teknologi analitik dapat memberikan wawasan untuk kesadaran situasional dalam memahami potensi ancaman dan lintasan dari situasi tertentu.

Respond adalah bagaimana mencapai kesadaran situasional yang lebih baik. Keputusan harus dibuat dengan cepat berdasarkan data yang terus berkembang pesat, dan teknologi analitik dapat membantu memberikan gambaran utuh melalui penilaian situasi, visualisasi, dan grafik tren untuk memprediksi kemungkinan apa yang akan terjadi di masa depan. SAS memberikan contoh analitik visual yang menunjukkan analisis epidemiologis, lokasi, dan tren yang tersebar selama pandemi.”

Di India, SAS bekerja dengan pemerintah negara bagian Odisha untuk mengembangkan model analitik yang memprediksi periode puncak pandemi untuk infeksi dan kematian di tingkat distrik, dan memperkirakan daerah yang berisiko tinggi terpapar COVID-19 dan area yang ditahan agar tidak meluas sebarannya. Hal tersebut digunakan untuk memperkirakan kapasitas tempat tidur bagi pasien yang dikarantina dan ketersediaan unit perawatan intensif (ICU), dengan mempertimbangkan juga jumlah populasi imigran.

Sedangkan Recover adalah membantu warga mendapatkan bantuan yang mereka butuhkan. Solusi analitik dapat mendukung upaya instansi layanan masyarakat mulai dari pemerintah pusat, provinsi, kabupaten/kota menyasar individu dan pelaku usaha sebagai target bantuan stimulus agar roda ekonomi tetap bergerak.

”Dengan keterbatasan biaya, pemerintah baik pusat maupun daerah bisa memanfaatkan teknologi analitik untuk mengidentifikasi entitas mana yang benar-benar membutuhkan bantuan, serta mengurangi potensi penyalahgunaan dalam hal penyaluran dana bantuan,” ungkapnya.

Salah satu contohnya adalah Kementerian Pembangunan Sosial Selandia Baru, yang mengembangkan model data analitik untuk memperkirakan risiko ketergantungan kesejahteraan di antara kelompok masyarakat yang paling rentan dari kalangan pasangan muda dan anak muda yang tidak dapat tinggal bersama keluarga mereka, memprediksi kemungkinan kelompok populasi ini masuk dalam kategori penerima manfaat orang dewasa.

Dengan basis pengetahuan yang mendalam tersebut, mereka ditawari layanan spesifik yang terukur untuk mengurangi ketergantungan jangka panjang mereka, termasuk pendampingan, keterampilan penganggaran, pendidikan dan pelatihan. Strategi tersebut berhasil, karena data menunjukkan bahwa mereka yang menerima tunjangan orang dewasa melalui investasi tambahan menurun ke tingkat terendah sejak 2008, dan terjadi peningkatan lapangan kerja sebesar 9,3 persen pada 2013.

Mengubah cara lembaga dalam melayani publik adalah konsep Reimagine. Penggunaan analitik akan membantu lembaga pemerintah dalam menata ulang pendekatan untuk lanskap yang telah berubah.

”Pandemi telah mempercepat transformasi digital, mendorong pembelian makanan serta layanan secara online. Instansi pemerintah dipaksa untuk memikirkan kembali bagaimana cara mereka berinteraksi dan melayani publik serta dampak jangka panjangnya terhadap perilaku masyarakat. Transformasi atau imajinasi ulang sangat penting dalam hal ini.”

Analisis tingkat lanjut seperti kecerdasan buatan (artificial intelligence), machine learning, dan augmented analytics dapat meningkatkan kecepatan dan volume kinerja analitik untuk mempengaruhi produktivitas dan efisiensi, serta memungkinkan prediksi yang lebih besar akurasinya. Dengan ini, para pemimpin diberdayakan untuk membuat keputusan berbasis informasi akurat dan inovatif yang akan meningkatkan kualitas hasil keputusan, memastikan akses ke layanan dan program, dan mendukung pengelolaan anggaran yang optimal dan meraih kepercayaan publik

”Saat kita keluar dari pandemi ke dalam dunia yang berbeda, pemerintah perlu memikirkan kembali paradigma dan pendekatan baru. Kita harus memanfaatkan pandemi ini untuk menggunakan teknologi analitik dalam melakukan transformasi dalam pendekatan yang pemerintah lakukan saat ini serta untuk melibatkan warga dengan cara baru untuk mempersiapkan krisis di masa depan,” tutupnya.

 




Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *