Search
Rabu 24 Juli 2024
  • :
  • :

Ketakutan Pindah ke IPv6 Seperti Saat Y2K?

MAJALAH ICT – Jakarta. Makin menipisnya alamat protocol Internet IPv4 ternyata mengundang kekhawatiran para pengusaha warung Internet (warnet).

Pengusaha warnet berharap semua operator dan penyedia jasa Internet di Indonesia sanggup mengatasi kebutuhan sistem alamat Internet protocol.

Rudi Rusdiah, Ketua Asosiasi Pengusaha Warnet Telematika (APW Komitel), mengatakan pihaknya berharap operator dan penyedia jasa Internet dapat mengatasi kelangkaan sumber daya alamat IPv4 yang akan segera habis jika dipakai dengan akselarasi kebutuhan saat ini.

 Jika sumber daya ini habis, bisa terjadi kondisi deadlock dan hang, terutama karena banyaknya peranti [gadget] Internet seperti smartphone, netbook [dan PC tablet] yang membludak belakangan ini, ujarnya.

Menurut Rudi, warnet dan pelanggan Internet berharap transisi di lingkup operator dan penyedia Internet berjalan lancar karena peralatan-peralatan yang baru kebanyakan sudah mengikuti atau comply dengan IP versi 6 (IPv6) dan kompatibel dengan IPv4.

 Di Indonesia populasi warnet per 2010 diperkirakan mencapai 20.000 warnet. Adapun pengguna Internet diperkirakan sudah menyentuh 45 juta pengguna dengan tren pertumbuhan pesat seiring dengan tingginya penetrasi broadband nirkabel.

Kemkominfo akhir tahun lalu memperkirakan 50% penyedia Internet termasuk operator sudah siap comply ke IPv6.

 “Ini bisa jalan dua-duanya [IPv4 dan IPv6]. Jadi yang semestinya siap-siap Internet service provider dan operator, kalau warnet dan user tinggal pesan dari mereka,” ujar Rudi

Menurut dia, teknologi IPv4 sudah usang sejak digunakan 1981. IPv4 menyediakan 4,3 miliar alamat protokol Internet dengan 32 bit address yang kekhawatiran terhadap transisi pergantiannya ke IPv6 persis seperti kasus pergantian millenium dan millenium bug.

 Ketika itu, tambah Rudi, masalahnya adalah sumber daya peralatan masih menggunakan 2 digit address untuk tahun yang harus digantikan menjadi 4 digit.

Namun saat itu berkembang kabar bahwa akan terjadi malapetaka dunia, yang ternyata hanya kabar palsu atau hoax untuk menguntungkan para konsultan Y2K (year two thousand).

 Pada tahun ini kekhawatiran itu, menurut Rudi, berulang. Alamat Internet sudah hampir habis 32 bit dan segera diganti dengan alamat 128 bit sebesar 34 undecilion dengan 12 sampai 15 nol dibelakangnya. Tahun lalu pemakaian IP address sudah mencapai 319 juta dan terus meningkat pesat.

Ini masalahnya, persis seperti apa yang terjadi pada 1999 ketika kita ketakutan dengan masalah Y2K pergantian millenium, papar Rudi.