Search
Selasa 16 April 2024
  • :
  • :

Kinerja Operator Telekomunikasi Menurun, Siapa Salah?

MAJALAH ICT – Jakarta. Kinerja operator mengalami penurunan pada kuartal I/2013. Sejumlah operator mengklaim turunnya kinerja tersebut karena rugi kurs dan ekonomi global yang memang belum pulih, tapi tak sedikit juga yang menyalahkan kurangnya visi pemilik serta kurang kondusifnya regulasi.

Diantara operator tiga besar, hanya Telkom yang mencatat kinerja positif, sedangkan XL mengalami penurunan laba bersih, bahkan Indosat mengalami peningkatan rugi bersih. Di luar ketiga operator tersebut, sudah jadi rahasia umum kalau mereka sudah lama tak meraup untung, bahkan sebagian berpendapat ekstrem, yaitu bahwa masih bisa hidup pun sudah bersyukur.

Sejumlah kalangan menilai pemerintah dan regulator disalahkan terhadap turunnya kinerja keuangan operator telekomunikasi yang tercermin dari laporan keuangan perusahaan pada kuartal I/2013 Suara tersebut datang dari Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia dan Asosiasi Telekomunikasi Seluler Indonesia (ATSI), bahwa regulatory charges berupa pungutan di daerah, biaya frekuensi, dan biaya lainnya sudah terlalu tinggi.

Pengusaha minta pemerintah seyogyanya selalu memberikan insentif pada operator telekomunikasi untuk membangun, dan bukannya disinsentif. Regulator juga seharusnya menciptakan iklim dimana operator tidak saling membunuh soal tarif.

Anggota Badan Regulasi Telekomunikasi Indonesia (BRTI) Nonot Harsono mengungkapkan penyebab turunnya kinerja operator karena tak siap dalam strategi penarifan seiring meningkatnya layanan data dari penyedia konten luar negeri dan menurunnya suara, bukannya regulasi.

“Kenapa harus menduga-duga atau merajuk bahwa regulasi tidak mendukung, dijajah diam saja, maka tunggulah kebaikan hati penjajah seperti menunggu langit runtuh,” tuturnya.

Regulator menengarai munculnya fenomena gunting membuat kinerja operator telekomunikasi memburuk kuartal I/2013. Anggota BRTI Nonot Harsono mengatakan fenomena gunting artinya operator membiarkan saluran dilalui data tanpa charging.

Karena latah menganut faham Internet is free, data unlimited, atau tarif yang tak masuk akal seperti Rp5.000 untuk 6 bulan, nelpon gratis 7-hari 7-malam, sehingga mereka tinggal menikmati penderitaan di akhir kuartal I tahun ini.

Perubahan sumber uang yang bergeser dari pipa (network) ke konten dan applikasi, membuat operator terlena dan tidak memperbaiki strategi penarifan serta tidak membina aliansi strategis dengan penyedia aplikasi.

Terhadap BlackBerry dan aplikasi over the top (OTT) lainnya, operator memang tak punya bargaining position yang kuat, bukannya tidak unya sama sekali, tapi tidak mau, padahal Indonesia merupakan pasar telekomunikasi yang luar biasa dengan 240 juta penetrasi ponsel hingga saat ini. (ICT/02)