Search
Kamis 29 Juli 2021
  • :
  • :

Kiprah Ilham Habibie Dipertanyakan Sebagai Ketua Pelaksana DeTIKNas

MAJALAH ICT – Jakarta. Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) baru saja mengangkat Ilham Akbar Habibie sebagai Ketua Tim Pelaksana Dewan Teknologi Informasi dan Komunikasi Nasional atau yang disebut Dewan TIK Nasional melalui Keputusan Presiden (Keppres) Nomor 1 Tahun 2014 yang ditandatanganinya pada 20 Januari 2014. Ilham Akbar Habibie merupakan putra sulung mantan Presiden RI ke III BJ. Habibie. Meskipun dalam Keppres itu disebutkan susunan keanggotaan Dewan TIK Nasional terdiri atas Tim Pengarah, Tim Pelaksana, Tim Penasihat, dan Tim Mitra (terdiri dari pemangku kepentingan di bidang industri teknologi dan informasi, akademisi dan praktisi yang ditetapkan oleh Ketua Harian Tim Pengarah), namun kiprah Ilham Habibie di sektor TIK dipertanyakan.

Seperti disampaikan seorang petinggi di Kementerian Kominfo kepada Majalah ICT. "Mau apa lagi Ilham? Ilham pernah datang ke Kementerian Kominfo tahun 2008-an lalu dan membawa IGADD (investor group against digital divide), yang berjanji akan mengentaskan Indonesia dari kesenjangan digital dan membangun serat optik di Nusantara. Tapi hasilnya tidak ada," kata sumber tersebut.

Pertanyaan lain juga diajukan seorang prosesor dari sebuah perguruan tinggi ternama di Bandung, yang mengetahui mengenai Ilham Habibie yang menawarkan IGADD sebagai solusi mengatasi kesenjangan digital. "Itu IGADD bagaimana kelanjutannya? Sudah berapa kilo meter serat optik yang dipasang?" katanya yang justru balik bertanya.

Memang DeTIKNas yang baru belumlah dapat ditanyakan capaian kerjanya. Apalagi, selain Ilham yang lebih Ahli mengenai pesawat terbang ini itu juga terdapat sejumlah profesional yang menjadi anggota Tim Pelaksana Dewan TIK Nasional, yaitu Amir Sambodo, Sylvia Sumarlin, Indra Utoyo, Hari Sungkari, Garuda Sugardo, Zainal A. Hasibuan, Virano G. Nasution dan Ashwin Sasongko Sastrosubroto, namun keraguan tidak bisa ditepis begitu saja, apalagi sejak pembentukannya lembaga ini seperti antara ada dan tiada.




Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *