Search
Sabtu 13 April 2024
  • :
  • :

Konsolidasi Industri Telekomunikasi Dimulai

MAJALAH ICT – Jakarta. Badan Regulasi Telekomunikasi Indonesia (BRTI) akan memfasilitasi konsolidasi antar operator fixed wireless access (FWA) di pita 800 MHz.

Anggota BRTI Nonot Harsono mengatakan regulator menawarkan konsolidasi kepada operator FWA dan seluler berteknologi code division multiple access (CDMA).

"Namun sampai sekarang belum ada tanda-tanda bagi mereka untuk memulai konsolidasi, baik merger maupun akuisisi. Mungkin mereka saling sungkan atau gengsi," katanya.

Untuk itulah, tambahnya, BRTI bersama Kementerian Kominfo akan mengundang mereka dalam waktu dekat agar mereka bisa mendeklarasikan diri sebagai operator seluler mengingat izinnya yang sudah nasional. "Nantinya jaringannya menjadi satu saja," tuturnya.

Persaingan industri telekomunikasi yang kian ketat mulai memakan korban. Salah satunya adalah Bakrie Telecom (BTEL).

Selain jumlah pengguna yang berkurang, BTEL juga mengalami kerugian besar di 2012, yang mencapai Rp. 3,13 triliun.

Menurut Wakil Direktur Utama Bakrie Telecom Jastiro Abi, angka kerugian tersebut meningkat jauh dibanding tahun 2011 yang hanya sebesar Rp 782 miliar. Kerugian di atas Rp. 1 trliun sudah dilaporkan BTEL per September 2012.

 Begitu juga jumlah pengguna yang sebanyak 14 juta di 2011 turun menjadi 12 juta per September 2012, yang kemudian merosot lagimenjadi 11,6 juta di akhir 2012.

Dengan fenomena ini, yang juga terjadi pada operator lain, terutama di rentang 800 MHz, merupakan saat yang tepat untuk memikirkan konsolidasi. Konsolidasi menjadi suatu keharusan, apalagi di tengah- tengah sejumlah operator seperti kehabisan nafas dalam menyiapkan infrastruktur untuk melayani pelanggannya.

Seperti dikatakan Dirjen Sumber Daya dan Perangkat Pos Informatika Muhammad Budi Setiawan, arah dari penataan frekuensi nantinya adalah menuju konsolidasi, dan pemerintah siap menjadi ‘mak comblang’-nya.

Seperti diketahui, operator, terutama CDMA dan sebagian GSM tengah menghadapi situasi hidup segan mati tak mau. Masalah penurunan tarif telekomunikasi dan besarnya biaya regulasi tentunya membuat hamper semua operator memiliki utang, baik di lembaga keuangan maupun vendor.

Terutama operator CDMA, pemerintah menyarankan agar menjadi satu atau dua operator saja, karena dengan adanya 4 operator, maka penguasaan frekuensinya sangat kecil termasuk Smart Telecom di pita 1.900 MHz.

"Kalau jadi satu atau dua operator tentu akan sangat baik bagi industri, tetapi syaratnya harus membuka keran MVNO (mobile virtual network operation) sehingga merek-merek milik operator sebelumnya tetap ada, seperti Esia, Fren, Flexi, dan StarOne," kata Budi. 

Ditambahkannya, konsolidasi juga merupakan jalan pintas menuju peningkatan average revenue per user (ARPU), peningkatan kualitas layanan kepada pelanggan, dan meningkatkan kesempatan operator untuk meng-explore berbagai teknologi telekomunikasi.