MAJALAH ICT – Jakarta. Pakar Teknologi Informasi Onno W. Purbo menegaskan bahwa balon Google yang merupakan proyek yang dikembangkan Google dan telah resmi menggandeng tiga operator telekokunikasi utama Indonesia, tidak cocok untuk wilayah Indonesia. Menurut Onno akan begitu kendala dan persoalan dalam pemanfaatan teknologi yang akan diujicobakan Telkomsel, Indosat dan XL Axiata ini.
Dijelaskan Onno, secara teknis akan sulit bagi balon-balon internet dari Google untuk memberikan akses yang maksimal karena berada di ketinggian di atas 10 Km, yang menurut keterangan Google sendiri akan ditempatkan pada ketinggian 20 km. “Ketinggian 10 km itu lumayan jauh. Harus pakai antena yang arah ke atas, sedangkan antena yang ada rata-rata buat terrestrial bukan space,” katanya.
Karena itu, Onno amat sangat menyayangkan langkah pemerintah yang untuk menggandeng Google bekerja sama dengan operator telekomunikasi. Apalagi, kata Onno, standar dari BTS milik GSM hanya bisa menangani maksimal 7 concurrent call/channel. "Misal di Papua, mau diterbangin berapa balon jika mau kecepatan setara 4G. Kalau balon banyak diterbangin, gimana mengintrolnya," sesal Onno.
Padahal, di sisi lain, kata Onno, teknologi OpenBTS sudah beroperasi lebih dari dua tahun di Papua. “OpenBTS yang di Papua sudah menjadi contoh di dunia sebagai yang terlama operasional di dunia. Kementerian Kominfo ini kadang tidak mengerti tekni-nya, namun lebih banyak meributkan masalah regulasi,” ujar Onno.
Upaya yang ditempuh operator telekomunikasi menggandeng Google ini memang menjadi pertanyaan, pasalnya Pendiri Facebook Mark Zuckerberg sendiri pernah menilai balon internet Google secara negatif.
Dalam sebuah pernyataan beberapa waktu lalu, rencana Google untuk memperluas jangkauan internet berkecepatan tinggi menggunakan balon merupakan rencana yang tidak masuk akal. Menurutnya, daripada mengedepankan Project Loon, Google lebih baik bila menggunakan teknologi biasa dan hal-hal yang saat ini sudah diterapkan oleh operator telekomunikasi.
"Saat ini, 90 persen orang-orang di dunia sudah hidup dalam jangkauan jaringan telekomunikasi," yakinnya. Dengan begitu, maka masyarakat akan terhubung ke internet melalui operator layanan telekomunikasi.
Mengenai balon internet Google, Sigit Jatipuro dari Asosiasi Satelit Seluruh Indonesia (ASSI) dalam sebuah diskusi mewakili ASSImenyampaikan bahwa disruptive technology seperti yang dihadirkan melalui project loon ini perlu diwaspadai. “Harusnya kerja sama dilakukan tidak dengan Google, karena di dalam negeri juga sudah ada penelitian dan pengembangan serupa. Apalagi, balon Google ini belum sempurna,” jelasnya.
Ditambahkan Sigit, yang perlu juga diwaspadai adalah kemampuan surveillance yang dapat digunakan untuk memata-matai apa yang ada di bawahnya. “Ini membahayakan ketahan nasional. Ini lebih berbahaya dari satelit yang tertutup awan, sebab dengan balon Google ini akan lebih terang,” tandasnya.
Pro dan kontranya pendapat masyarakat mengenai balon Google, coba diluruskan Rudiantara. Menurutnya, informasi soal project Loon dinilai sudah simpang siur. "Sehingga perlu saya luruskan," katanya. Diungkapkannya lelaki yang sering dipanggil Chief RA tersebut, petinggi Google yang menjalankan Project Loon memang pernah mendatangi dirinya beberapa waktu lalu.
“Mereka akan bawa Project Loon itu ke Indonesia, tepatnya technical test di udara kita tanpa implikasi komersil. Saya waktu itu pikir, kita biarkan atau tangkap peluang,” ungkapnya. Dari diskusi, RA menanyakan frekuensi mana yang akan digunakan oleh Project Loon di Indonesia. Piak Google meminta frekuensi 900 MHz. "Saya bilang sudah habis karena diduduki Telkomsel, Indosat, dan XL," jelasnya.
Kemudian, Google minta frekuensi 700 MHz, yang dijawab dirinya bahwa ini masih digunakan siaran televisi analog. Sampai kemudian, Google mengungkapkan akan menggandeng operator eksisting untuk technical test.
Ditandaskannya, soal balon internet ini belum jelas model bisnisnya dan tak bisa dibandingkan dengan pembangunan serat optik Palapa Ring yang sedang ditender pemerintah. "Kalau soal efisiensi, tentu tak akan sama dengan Palapa Ring. Palapa Ring kan bakal jadi infrastruktur backbone dalam penyebaran broadband di sini," yakinnya.
Tulisan ini dan informasi menarik lainnya tentang perkembangan teknologi informasi dan komunikasi Indonesia dapat dibaca di Majalah ICT No.39-2015 di sini


















