Search
Sabtu 13 April 2024
  • :
  • :

LAPORAN KHUSUS | Inikah ‘Bubble’ Bisnis E-Commerce di Indonesia? (2)

MAJALAH ICT – Jakarta. Bisa jadi gelembung bisnis e-commerce mulai bocor. Zalora Indonesia, sebagai salah satu e-commerce fashion yang juga memiliki ‘outlet’ di beberapa negara, dikabarkan mulai melakukan pemutusan hubungan kerja terhadap karyawan-karyawannya, terutama di bagian perdagangan barang (merchandise). Disebut-sebut, alasan pemectan dikarenakn Zalora terlalu agresif memasuki pasar Indonesia.

Meski belum ada pernyataan resmi dari Zalora Indonesia, namun Rocket Internet yang berada di belakang nampaknya memang sedang melakukan perhitungan terhadap bisnis jual pakaian secara online ini. Gerai mereka di Taiwan, Zalora Taiwan, ditutup hanya satu sejak sejak situs perdagangan elektronik mereka diluncurkan. 100 orang terkena PHK dan situs Zalora Taiwan menyatakan bahwa mereka tidak lagi melayani perdagangan onilne. Namun, alasan yang dipakai alasan memidahkan basis operasi dari Taiwan ke Singapura. Mereka juga menolak, seperti dikutip dari Techcrunch.com, apabila dikatakan bangkrut.

Zalora sendiri sebelumnya memiliki cabang di tujuh negara di Asia Tenggara. Dana yang mereka miliki 26 juta dolar AS. Dan berdiri mulai Mei 2012. Untuk pasar Indonesia, belanja online untuk pakaian memang tidak tergolong baru. Beberapa penjual batik telah memulainya sejak beberapa tahun lalu, melalui situs online maupun jejaring sosial seperti Facebook.

Namun, pakaian memang hal yang bersifat pribadi, terutama ukuran. Banyak yang pesan pakaian secara online kecewa karena ukuran tidak pas dan jika mengembalikan harus mengeluarkan biaya ekstra. Selain ukuran, dalam banyak kasus, kualitas tidak seperti yang diharapkan. Walaupun, sampaia saat ini, banyak yang masih eksis juga dengan penjualan baju muslim, baju anak-anak secara online. Dengan tentunya menjaga kepercayaan kualitas dan layanan purna jual.

Sebelum Zalora, perusahaan E-commerce raksasa Jepang, Rakuten, secara resmi mengakhiri kerja sama pemberian layanan e-commerce di Indonesia dengan PT Global Media (MNC). Sebagaimana diketahui, Rakuten Indonesia dibentuk oleh PT Rakuten-MNC setelah penandatanganan perjanjian pada tahun 2010 dimana share kepemilikan adalah 51% Rakuten Jepang dan 49% MNC.

Seperti dilansir Nikkei, rumor tentang hubungan yang tidak terlalu harmonis antara Rakuten dan MNC telah menyebar di antara pemain industri sejak tahun lalu. Rakuten Indonesia, sering dijuluki Rakuten Belanja Online memulai operasi mereka akhir 2010 tidak terlalu lama setelah pengumuman joint venture. Setelah meluncurkan situs web mereka untuk Maret publik 2011, Rakuten mulai menerima komentar negatif dari pedagang tapi itu tidak menghentikan mereka dari meluncurkan produk pada Juni 2011.

Dalam perjalanannya, Rakuten Indonesia seperti hidup segan mati tak mau. Bahkan, Rakuten dikalahkan oleh pendatang baru seperti Lazada, Zalora, BliBli.com dan lainnya. Dengan mengakhiri kemitraan usaha dengan MNC, ini kali kedua Rakuten mengakhiri kemitraan usaha patungan setelah pembubaran operasinya Cina. MNC sendiri telah mengumumkan perusahaan patungan baru dengan Tencent perusahaan terbesar China internet awal tahun ini, membawa produk-produk seperti WeChat ke pasar Indonesia.

Meski begitu, terkait dengan nasib situs belanja online Rakuten menyusul ‘perceraian’ antara Rakuten dengan MNC, Senior Executive Officer, Head of Asia HQ, Rakuten Inc. Toru Shimada memberikan klarifikasi resmi. Menurut Toru, sebagaimana disampaikan secara tertulis kepada Majalah ICT, pihaknya  merasa sangat senang dengan pertumbuhan bisnis onlien di Indonesia dengan mitra perusahaan lokal, MNC. 

“Dua tahun lalu, Rakuten meluncurkan Rakuten Belanja Online di Indonesia dengan mitra perusahaan patungan MNC Group. Kami sangat senang dengan pertumbuhan bisnis tersebut, di mana kami kini menawarkan produk yang sangat beragam dari para merchant top di Indonesia, kami juga sangat senang dengan respon yang kami terima baik dari merchant maupun konsumen di Indonesia," kata Toru.

Ditambahkan Toru, sejak semula pihaknya mengetahui bahwa Indonesia berpotensi menjadi salah satu pasar e-commerce terbesar di Asia dan keyakinan terhadap pasar Indonesia semakin meningkat dalam dua tahun terakhir. "Dengan dibukanya kantor pusat regional di Singapura tahun lalu, kami kini dapat mempercepat pertumbuhan di seluruh kawasan ini dan akan meningkatkan investasi di pasar yang sangat menarik ini,” papar Toru.

Menurut Toru, Rakuten juga percaya bahwa dengan fokus yang lebih mendalam dan investasi, pihaknya akan mampu tidak hanya mempercepat nilai yang dihadirkan oleh model B2B2C dan platform e-commerce untuk pemberdayaan merchant dan konsumen. "Tapi juga membantu mendorong evolusi lanskap e-commerce Indonesia," tandasnya.