Search
Selasa 20 Januari 2026
  • :
  • :

Lebih Dekat dengan Ventura Elisawati: Peran Media Sosial Kian Diperhitungkan

MAJALAH ICT – Jakarta. Menggeluti bidang apapun, kesuksesan nampaknya selalu mengiringi Ibu dua anak ini. Setelah lama berkecimpung di dunia jurnalistik dan menjadi Redaktur di Majalah SWA, Lisa atau Ve begitu biasa dia dipanggil, pindah haluan ke industri telekomunikasi. Posisi sebagai Kepala Komunikasi Korporasi (Head of Corporate Communications) dipegang, sebelum kemudian juga menggawangi  Komunikasi Pemasaran sebagai Head of Marketing Communication di perusahaan telekomunikasi yang bergerak di layanan telekomunikasi seluler, PT Excelcomindo Pratama, yang kemudian berubah nama menjadi PT XL Axiata (XL). Dialah Ventura Elisawati, sosok yang kini aktif membangun bisnis sendiri dengan di bawah bendera Inmark Digital.

Ve merupakan cerminan perempuan mandiri. Bahkan sedari kecil, perempuan kelahiran 1 Juli di Kota Yogyakarta ini sudah terbiasa mandiri  dan bersikap dewasa dalam menghadapi berbagai riak dan gelombang kehidupan, meski sudah tak lagi memiliki ayah sejak kecil.  Kemandirian itu kian terpupuk saat Ve terjun ke dunia jurnalistik.

""Meskipun berlatar belakang keuangan dan perbankan, Ve merasa nyama menjalani pekerjaan sebagai wartawan. Bahkan, sulung dari dua bersaudara ini berusaha memberikan yang terbaik bagi perusahaan, hingga kemudian jabatan sebagai Redaktur Pelaksana diraihnya di sebuah Majalah Berita Ekonomi, SWA.

Diceritakan Ve bagaimana profesinya sebagai wartawan memberinya banyak ilmu dan pengetahuan yang selama ini justru tak ia dapatkan di dunia pendidikan. “Kebetulan waktu itu aku mendapatkan seorang mentor yang bagus dan akhirnya aku merasa asyik. Dan di situlah aku merasa tertempa dengan baik, mental maupun pengetahuan,” ungkap Ve.

Menurutnya, dunia pers berbeda merupakan dunia yang bisa memberik pengetahuan yang sangat luas. Tidak terbayangkan olehnya, jika bekerja di sektor perbankan yang dinilainya akan tidak bergerak ke mana, hanya pada posisi tertentu dan melihat permasalahan dari satu sisi saja.

Namun kemudian, penulis buku “36 Kasus Pemasaran Asli Indonesia” yang ditulisnya bersama Pakar Marketing tanah air, Hermawan Kartajaya, pun merasa bahwa dirinya memerlukan tantangan lebih daripada sekadar menulis. Hingga kemudian Ve pun berlabuh di operator telekomunikasi XL, pada 1998.

Saat itu Ve bertugas membuka jaringan komunikasi dan relasi dengan berbagai media agar pemberitaan tentang  perusahaan dapat terus terbit dan masyarakat luas dapat mengetahuinya.

Dan XL pun kemudian berkembang besar hingga pemodal asing dari Malaysia dan Timur Tengah masuk. Ve merasa sangat beruntung bisa mengembangkan dan memperoleh banyak pengetahuan di perusahaan ini. Posisi Head of Corporate Communications dipegangnya, sampai kemudian juga menggawangi  marketing perusahaan Head of Marketing Communication. Saat menjadi Head of Corporate Communications, tentu saja ini bukan pekerjaan yang asing baginya, karena profesi sebelumnya sebagai wartawan, membuatnya tinggal menjalankan jaringan pertemanan dengan wartawan untuk mengkomunikasi perkembangan usaha perusahaan maupun jika sosialisasi produk-produk baru XL, termasuk saat awal-awal ramainya penggunaan BlackBerry.

Ve dikenal teman-temannya sebagai orang yang banyak ‘meracuni’ teman-teman dekatnya untuk BlackBerry. Bukan hanya teman-teman dekat, namun juga beberapa selebritas yang punya nama. Strategi tersebut dijalankan agar sang artis mempengaruhi artis lain atau fans-fans nya untuk menggunakan layanan dimana pengguna saat itu bisa membuka email meski tidak di kantor maupun chatting melalui BlackBerry Messenger (BBM). Ve dapat dianggap sebagai salah satu orang yang mempopulerkan keberadaan BlackBerry di tanah air.

Melihat beberapa teman dekatnya di XL yang kemudian “lulus” atau keluar dari perusahaan untuk berwiraswasta, membuat Ibu dari Adnyana Bening Wangiprameswari (Wangi) dan Abhniwesa Pinandita Acandrarkathayi (Ebhin) berhasrat mandiri dan mengembangkan usaha sendiri. Ve pun kemudian mendirikan Inmark Digital. “Inmark memberikan solusi komunikasi baik untuk Public Relation, marketing publik relation (MPR) dan corporate social responsibilty (CSR) melalui social media,” terang Ve.

Menjalankan usaha sendiri tentu berbeda dengan bekerja di perusahaan. Menurutnya, ketika usaha sendiri semua harus diurus sendiri, dari sopir hingga office boy. Dan utamanya, Ve juga harus memikirkan strategi agar bagaimana usahanya maju dan berhasil di tengah tantangan yang tidak mudah. “Tantangan ke depan karena sifatnya borderless, maka dibutuhkan keahlian spesifik misalnya pembuatan konten, serta keunikan di kreativitas. Karena keberhasilan suatu program untuk kampanye produk A, tidak bisa lagi direplikasi untuk produk B,” jelasnya.

Berkecimpung di industri media sosial, membuat istri dari Yusro Santoso cukup aktif memanfaatkan media sosial seperti Facebook maupun Twitter. Di Twitter, Ve memiliki akun @venturaE dengan panggilan Bunda Ve. Ketika disinggung dirinya yang kerap bermain Twitter, Ve mengatakan bahwa dia bukan bermain. “Aku kerja, bukan bermain karena pekerjaan ku kan terkait media sosial,” ucapnya.

Makin Diperhitungkan

""Mengenai peran media sosial, penggemar olah raga bersepeda ini menilai bahwa media sosial saat ini makin diperhitungkan. Dalam Pemilihan Presiden kali ini misalnya, percakapan media sosial menjadi salah satu indikator popularitas capres. “Dua pasangan Capres-Cawares pun berusaha memenangkan statistik percapakan di socmed (media sosial—red.),” katanya.

Ditambahkan Ve, itu artinya orang makin sadar bahwa media sosial juga punya nilai dibanding media yang sudah ada sebelumnya. “Kecepatan distribusi informasi dan crowd yg ada di socmed menjadi incaran para capres dan tim suksesnya. Sebelum kemudian dielaborasi oleh media-media arus utama,” jelas Ve.

Dan peran itu, menurut perempuan yang hobi membaca dan fotografi ini, akan semakin kuat, tidak hanya sebagai pelengkap. “Tapi setara dengan media-media lainnya. Dan yang pasti, internet serta media sosial tidak akan pernah membunuh media yg sudah ada sebelumnya, melainka saling melengkapi,” ujar Ve.

Ve menggarisbawahi, yang perlu jadi perhatian masyarakat terkait media sosial perlu adalah perlunya edukasi untuk bagaimana memanfaatkan media baru ini, dan selalu melakukan check and balance atas semua informasi yg beredar di media sosial. Soal peran pemerintah? “Rasanya tidak ada. Biarkan yang mengatur media sosial adalah pelaku media sosial sendiri. Sepanjang pelaku media sosial mengikuti ToS (term of service) yang dibuat oleh masing-masing platform, rasanya media sosial akan berjalan baik-baik saja,” pungkasnya. 

Tulisan ini dan informasi-informasi mengenai perkembangan ICT Indonesia lainnya dapat dibaca di Majalah ICT Edisi No. 25-2014 di sini