Search
Minggu 17 November 2019
  • :
  • :

Mahasiswa Bisa Ubah Pola Tontonan Masyarakat

MAJALAH ICT – Jakarta. Mahasiswa merupakan garda terdepan penyampai informasi yang baik, mendidik dan berkualitas ke masyarakat. Selain aktif memberi informasi, mahasiswa memiliki andil dalam hal positif dan konstruktif lainnya seperti memikirkan strategi kebijakan penyiaran Indonesia ke depan.

“Kami berharap kalian membuat kajian-kajian ilmiah tentang penyiaran dan hasilnya bisa menjadi masukan bagi KPI. Kalangan milenial harus kritis dan inovatif menciptakan saran-saran yang konstruktif bagi penyiaran,” kata Komisioner KPI Pusat, Nuning Rodiyah, saat menjamu kunjungan Mahasiswa Institut Agama Islam Negeri Metro Lampung, di Kantor KPI Pusat, Senin (21/10/2019).

Ia menambahkan, sebagai agen perubahan, mahasiswa ikut bertanggungjawab mengubah pola tontonan masyarakat agar mau beralih pada tayangan yang bermutu dan berkualitas. Namun begitu, Mahasiswa harus memahami dulu bagaimana konten berkualitas tersebut.

“Jika mau menonton sinetron silahkan saja, tapi tonton sinetron yang berkualitas. Jika hal ini sudah dipahami, ini akan ikut mengubah konten kita. Tanggungjawab kita adalah bagaimana meningkatkan tayangan sinetron agar lebih baik dan tidak ada lagi unsur negatifnya. Tapi untuk mengubah ini, harus all out tidak boleh setengah-setengah,” kata Nuning.

Saat sesi tanya jawab, salah satu Mahasiswa IAIN Metro, Indra, menanyakan kebijakan KPI jika ada anak yang menyaksikan tayangan konser lewat pukul 10 malam. Menjawab pertanyaan itu, Komisioner KPI Pusat, Hardly Stefano menjelaskan, dalam P3SPS KPI terdapat aturan pelibatan anak dalam sebuah program acara. Aturan ini menjadi acuan setiap lembaga penyiaran dalam pelibatan anak di setiap programnya.

“Memang secara aturan tidak boleh anak menyaksikan atau terlibat dalam sebuah program live jika sudah lewat jam 10 malam,” tuturnya.

Selain persoalan anak, Hardly menjawab pertanyaan tentang boleh tidaknya konflik kekerasan diberitakan. Menurut Komisioner bidang Kelembagaan ini, hal itu boleh saja diberitakan asalkan tidak semata-mata fokus pada peristiwa konflik dan kekerasannya.  “Berita itu harusnya berisikan informasi yang meredakan konflik dan menciptakan kedamaian,” paparnya.

 

Loading...




Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *