Search
Senin 15 April 2024
  • :
  • :

ManageEngine Prediksikan AI Masih Jadi Penentu Bisnis di 2024

MAJALAH ICT – Jakarta. Tidak mengherankan, kecerdasan buatan (AI) akan masih mendominasi dalam bisnis serta menjadi prioritas pada sektor TI di tahun 2024. Penggunaan teknologi inovasi terbaru AI yang berkembang akan mengubah dan mempengaruhi aktivitas bisnis tradisional. Di sisi lain, peran AI yang meluas ini memiliki resiko terhadap keamanan data privasi dan informasi. Hal ini lah yang masih menjadi pendorong utama di balik inovasi dan lahirnya terobosan dalam tata kelola AI selama 12 bulan terakhir.

Momentum ini diperkirakan masih akan bertahan pada tahun 2024, Di Indoensia sendiri, menurut Rajesh Ganesan, President, ManageEngine pertumbuhan AI akan masih menjadi prioritas dan hal yang masih menarik untuk di bahas, hal ini tidak bisa terlepas dari tingginya jumlah pengguna internet di Indonesia yang akan mencapai 80% dari populasi. Sehingga angka ini secara tidak langsung mendorong pertumbuhan bisnis, dan mempengaruhi keputusan-keputusan dari para pembuat keputusan untuk lebih memanfaatkan dan meningkatkan kemampuan teknologi AI. Namun tanpa disadari hal ini akan meningkatkan risiko terkait AI itu sendiri. Untungnya, kerangka kebijakan seperti Strategi Nasional untuk Kecerdasan Buatan memberikan pijakan yang kuat untuk menavigasi tumbuhnya dan inovasi teknologi AI yang tidak bisa di bendung. kedepannya sektor bisnis akan merujuk dan memanfaatkan kerangka kerja ini untuk melengkapi diri mereka secara proaktif dengan alat dan pengetahuan defensif yang tepat.

Rajesh Juga memaparkan beberapa potensi ancaman yang dapat ditimbulkan oleh teknologi AI yang mengganggu seperti deep-fake dan augmented reality untuk sektor bisnis. Resiko dan ancaman ini menjadi hal yang harus sudah di waspadai. Rajesh menyebut ancaman tersebut adalah deepfake dan augmented reality kedua hal ini hamper membuat kita tertipu dan tidak bisa membedakan antar kenyataan dan buatan, lebih teptnya teknologi ini sulit untuk dideteksi.

Misalnya, beredarnya video TikTok Menteri Pertahanan Indonesia — dan kandidat presiden — Prabowo Subianto, yang tampak berbicara secara fasih dengan bahasa Arab, video ini mengumpulkan lebih dari 2 juta tampilan pada November tahun lalu. Rekaman sebenarnya yang menjadi dasarnya berasal dari tahun 2022 dan menunjukkan Subianto berbicara bahasa nasional. Kejadian ini seperti sebuah wakeup call bagi kita akan bahayanya sebuah AI yang mampu memanipulasi dan menciptakan sebuah kebohongan.

Kembali Rajesh mengingatkan bahwa bisnis tidak kebal terhadap risiko ini, karena deepfake dapat digunakan untuk menyebarkan disinformasi dan misinformasi dalam suatu organisasi.

“Jadi yang perlu diingat sektor bisnis tentu saja tidak akan terhidar dari ancaman dan resiko ini. AI generatif juga dapat dimanfaatkan oleh pelaku ancaman untuk mengeksekusi serangan phishing suara (vishing). Tidak hanya itu, ada juga risiko serangan spear-phishing email yang diikuti dengan panggilan telepon yang menggunakan deepfake audio” Terang Rajesh.

Tentu saja dan sudah pasti bahwa organisasi perlu memadamkan api dengan api, ujar Rajesh. Menurutnya organisasi perlu memanfaatkan solusi keamanan siber berbasis AI untuk memeriksa audio dan video, mengubahnya menjadi teks, dan menganalisis teks tersebut untuk kata kunci.

Teknologi Blockchain adalah alat lain untuk memerangi deepfake, karena dapat digunakan untuk memanfaatkan mekanisme berbagi data terdistribusi berdasarkan smart contract. Misalnya, saat video dibuat, smart contract merekam metadata video dan atribut terkaitnya, lalu membuat hash. Disinilah smart contract juga memberi individu tertentu akses terbatas ke video, sambil memastikan akses didasarkan pada interaksi dengan smart contract, sehingga hal ini mencegah penggunaan deepfake. Sementara itu, tanda tangan digital dan otentikasi multi-faktor juga dapat digunakan untuk meningkatkan perlindungan organisasi terhadap deepfake.

Selanjutnya Langkah-langkah yang memungkinkan diambil oleh organisasi di tahun 2024 untuk meningkatkan keamanan digital dan memastikan pengalaman digital yang bebas dari kekhawatiran terutama bagi pengguna akhir adalah mengintegrasikan berbagai fungsi manajemen TI untuk memastikan alur kerja yang mulus dan aman. Kemungkinan juga akan ada lebih banyak penekanan pada pendekatan akses-sentris identitas.

Sementara itu, 2024 juga akan menjadi tahun terbentuknya infrastruktur cloud dan pengelolaan hak (CIEM) hal ini akan tumbuh seiring dengan organisasi yang terus berusaha meningkatkan visibilitas yang lebih detail dan terperinci serta meminimalkan ancaman. Hal ini disebabkan oleh kemampuan CIEM yang terus berkembang untuk memberikan visibilitas komprehensif atas identitas dan hak di berbagai lingkungan cloud.

Secara lebih umum, Rajesh juga menyampaikan tahun 2024 juga masih menjadi lanskap global yang memiliki ketidakpastian yang signifikan, namun organisasi akan tetap berinvestasi serta meningkatkan strategi keamanan pada sektor siber bagi organisasi secara lebih menyeluruh.