Search
Minggu 16 Juni 2024
  • :
  • :

Media Sosial Sekarang Didominasi Ujaran Kebencian, Fitnah, Sikap Intoleran dan Anti Pancasila

MAJALAH ICT – Jakarta. Pemanfaatan media sosial di Indonesia saat ini berkembang luar biasa perlu diiringi dengan sikap bijak dalam berbagi informasi. Menurut Direktur Jenderal Informasi dan Komunikasi Publik Niken Widiastuti, saat ini perkembangan teknologi informasi kehidupan di dunia nyata tidak pararel dengan kehidupan di dunia maya. Dan media sosial kini dipenuhi ujaran kebencian, provokasi, fitnah, sikap intoleran dan anti Pancasila.

”Di dunia nyata kita masih bisa saling menghargai, saling menghormati, tapi di media sosial sekarang lebih banyak didominasi konten negatif berupa ujaran kebencian, provokasi, fitnah, sikap intoleran dan penyebaran paham yang bertentangan Pancasila dan UUD 1945,” katanya dalam Forum Literasi Media bertema Memanfaatkan Media Sosial dengan Cerdas di Yogyakarta.

Dengan dinamika informasi yang berlangsung cepat sekali dan mudah dipertukarkan melalui gawai, menurut Niken setiap orang mudah berbagi informasi. “Istilahnya Ten To Ninety yang artinya 10 orang membuat konten negatif, kemudian 90 persen menyebarkannya dengan sukarela. Bagaimana kalau kita balik 10 persen membuat konten positif dan 90 persen menyebarkan dengan sukarela?” ajak Niken untuk mulai membagi konten positif di media massa.

Dalam forum yang dihadir oleh pegiat Pramuka itu, Dirjen Niken mengajak peserta untuk mengupload informasi yang positif berkaitan dengan Pramuka. Ia berharap agar dibuat group dan forum dari Pramuka dengan bimbingan dari Kementerian Kominfo. “Adik-adik, mari kita memproduksi informasi yang berkaitan dengan Pramuka, misalnya Dasa Dharma Pramuka dan lainnya. Atau sebagai calon-calon pemimpin masa depan, mari persiapkan jiwa kepemimpinan, rela berkorban, disiplin dan lainnya sesuai Dasa Dharma Pramuka. Adik-adiklah yang diharapkan dapat menjaga Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI),” ajak Niken.

Mengenai hoaks, Niken menyatakan, salah satu tujuan orang membuat Hoax di media sosial itu adanya perang ideologi. “Perang idiologi itu menyebarkan paham-paham yang bertentangan dengan ideologi dan Dasar Negara Republik Indonesia yaitu Pancasila. Pancasila itu sudah final, sehingga kalau ada paham–paham yang bertentangan dengan Pancasila maka kitalah yang menjadi garda terdepan untuk meluruskannya,” tegasnya.

Mengenai Gerakan Pramuka, Dirjen IKP berharap setiap anggota Pramuka harus mempertahankan Merah Putih Bendera Negara RI. “Tak seorangpun boleh mengganti Bendera NKRI. Adik-adik, mari kita mengambil peran dalam menjaga kesatuan dan persatuan NKRI. Pramuka harus menjadi garda terdepan untuk Empat Konsensus Nasional yang dulu disebut Pilar Negara Republik Indonesia, yaitu Pancasila, UUD 1945, NKRI, dan Bhineka Tunggal Ika. Jadi Pramuka harus mengawal Empat Pilar Nasional. Tidak boleh tergantikan dengan ideologi lain,” papar Niken.

Dirjen Niken menegaskan saat ini tugas seluruh masyarakat Indoobnesia cukup banyak. Melalui media sosial kita dipecahbelah dan tidak percaya lagi pada Pancasila. “Dan adanya ideologi-ideologi lain yang akan dipaksakan untuk menggantikan Pancasila. Bagaimana Pramuka memberikan kontribusi terhadap bangsa dan negara melalui lingkungan kita, Bhinneka Tunggal Ika, berbeda beda tetapi tetap satu,” tandasnya.

Oleh karena itu, Niken berpesan dalam menghadapi hoaks agar setiap orang dapat memenuhi media sosial dengan konten atau materi-materi yang positif. “Jadi begitu ada konten negatif, harus dihentikan oleh kita (tanpa disebarkan lagi). Dan kita semua harus waspada dan selalu saring dahulu sebelum sharing,” pungkasnya