Search
Jumat 21 Juni 2024
  • :
  • :

Menkominfo: Media Cetak Harus Menutup Berita Provokasi dan Hoax

MAJALAH ICT – Jakarta. Di tengah perubahan tren pola konsumsi media di Indonesia yang cenderung mulai bergeser kemedium digital, media cetak dituntut lebih kreatif mengemas konten, salah satunya melalui tampilan cover yang menarik. Acara malam Penghargaan SPS merupakan wahana mengukur pencapaian karya jurnalistik media cetak melalui kerja kerja yang inovatif dan menginspirasi.

Menteri Komunikasi dan Informatika (Menkominfo) Rudiantara dalam sambutannya mengatakan media cetak dapat menjadi salah satu alternatif melawan informasi yang bersifat hoax. Dia mengatakan dalam proses penyajian berita media cetak masih menjalankan cover both side. Ujarnya dalam acara malam Penghargaan SPS di Hotel Milenium. ”Saya mengapresiasi media-media yang masih menjalankan profesinya secara profesional dan tidak tergoda menjadi nomor satu yang memberitakan sehingga tidak masuk jerat hoax,” katanya

Menurutnya , kemajuan teknologi secara langsung berpengaruh pada medium berkomunikasi. Kini medium berkomunikasi tidak hanya didominasi media cetak, televisi ataupun radio. Seiring berjalannya waktu berubah ke medium internet dan kini masuk pada media sosial.

Melalui media sosial setiap orang bisa menjadi jurnalis bagi diri sendiri. Apalagi faktor psikologis orang Indonesia selalu ingin menjadi yang pertama memberikan informasi. ”Ini gue dulu yang menyampaikan ke publik. Ini yang memperparah adanya hoax,” tuturnya.

“Pemerintah saat ini memberi perhatian pada masalah hoax”, tegasnya, dan akan terus melakukan penyaringan informasi yang bersifat hoax, serta memberikan pengetahuan pada publik, bukan di hilir seperti memblokir.Dia berharap, langkah ini dapat mengembalikan kepercayaan terhadap media cetak yang hilang.

“Kalau melakukan menutupan situs itu hanya bermain di hilir. Itu akan melelahkan, karena akan muncul situs lainnya. Muncul lagi berita-berita hoax,” katanya.

Kominfo sendiri menurut Rudi sudah melakukan penutupan akses tapi juga konten yang berisi berita provokasi dan “hoax” karena merugikan masyarakat, bangsa dan negara.

“Kita juga akan melakukan penertiban di tingkat hulu, termasuk memberikan akses terhadap berita faktual dan menutup konten berita provokasi dan “hoax”. Karena Kominfo harus memberikan masukan yang sehat kepada masyarakat,” tambahnya lagi.

Sejauh ini dari sekitar 43.000 situs media online, Kominfo melakukan penutupan kepada 11 situs online saja.

Diakhir sambutannya Menkominfo mendukung upaya Dewan Pers yang akan melakukan uji kompetensi wartawan sebagai sumberdaya manusia yang memproduksi berita untuk menciptrakan Indonesia yang sehat. Selain itu, pihaknya juga mendorong lliterasi, sosialisasi dan edukasi media kepada publik agar tidak mudah percaya dengan informasi yang belum tentu benar. ”Ini kita perlahan-lahan kita kembalikan ke media mainstream. Makanya pemerintah dalam tanda petik terus mengawal hoax ini,” ungkapnya. Meski disebut ada tandatanda media cetak kembali dipercaya publik, Rudiantara tetap mengingatkan harus hat-ihati akan hoax.

Dewan Pers juga akan melakukan verifikasi terhadap media, apakah memenuhi persyaratan sebagai lembaga pers atau tidak. Kominfo juga akan bekerja sama dengan lembaga lain untuk bertindak, misalnya dengan aparat penegak hukum terkait dengan hal itu.

Karena, jumlah puncak oplah koran misalnya belum mampu menyamai kepemilikan ponsel di Indonesia. Menurutnya masih ada 110 juta orang yang bisa menjadi ceruk untuk diisi media mainstream. ”Oplah tertinggi koran 14 juta eksemplar. Bisa sekitar 60 juta orang yang membaca. Ini belum apa-apa jika dibandingkan yang punya ponsel 170 juta orang,” ungkapnya.