Search
Minggu 14 Juli 2024
  • :
  • :

Mewaspadai ‘Bubble’ E-Commerce di Indonesia

MAJALAH ICT – Jakarta. Pertumbuhan Internet di Indonesia sangat signifikan. Bahkan boleh dibilang, pengguna Internet di Indonesia merupakan salah satu yang terbesar di Asia, meski bila melihat persentasenya jumlah penduduknya masih di bawah 30%. Berdasarkan data Asosiasi Penyelenggara

Jasa Internet Indonesia (APJII) dan riset dari Indonesia Security Incident Responses Team on Internet Infrastructure (ID-SIRTII), pertumbuhan pengguna Internet di Indonesia tumbuh 2.600 persen dari 2 juta orang pada 2000 meningkat menjadi 63 juta pada 2012. Bahkan dari survei sejumlah lembaga

internasional seperti Nielsen, BCG, dan Yahoo, jumlah pengguna Internet di Indonesia akan melonjak hingga 146 juta orang pada 2015. Lebih dahsyat lagi bila melihat volume trafik, yang meningkat juga hingga lebih dari 2 juta persen dalam 10 tahun terakhir hingga mencapai 64 GB pada akhir 2012.

Pertumbuhan Internet tersebut diiringi dengan berkembangnya transaksi melalui online, baik pajak, pendaftaran siswa baru, e-KTP, atau pun jual beli barang dan jasa, yang kemudian disebut juga e-commerce.

Tak hanya ratusan, bahkan sampai ribuan situs e-commerce dan akun Facebook online shop menjamur di Indonesia. Meski masih dalam level amatir, artinya transaksi tidak menggunakan kartu kredit atau Pay Pal, namun gelombang e-commerce meningkat signifikan dalam tiga tahun terakhir.

Bahkan, Indonesia ICT Institute, menyebutkan bahwa bisnis perdagangan elektronik memang sedang bergairah. Apalagi, dalam catatan Direktorat E-Business Kementerian Komunikasi dan Informatika, bisnis ini  berpotensi memutar uang Rp330 triliun. Gelombang e-commerce tersebut menciptakan gelembung manakala perusahaan e-commerce global mulai memasuki pasar Indonesia. Sebut saja Zalora, Tokobagus.com, Rakuten, dan Multiply. Selain itu, ada juga pemain lokal Plasa.com, Kaskus.us, maupun Blibli. com.

Tak hanya pemain resmi, gelembung e-commerce juga dilirik oleh para pemain e-commerce ilegal untuk ikut menikmati kuenya, yaitu dengan menyediakan situs penjualan online palsu untuk tujuan menipu. Tak main-main, terdapat 4.000 situs e-commerce palsu, menurut riset Yayasan Nawala.

Namun di saat gelembung e-commerce makin membesar, justru Multiply harus undur diri dari semaraknya panggung e-comerce di Indonesia. Per akhir Mei lalu, Multiply yang beralamat di website Multiply.com dan Multiply.co.id resmi menutup layanannya.

Bisa jadi gelembung bisnis e-commerce mulai bocor. Zalora Indonesia, sebagai salah satu e-commerce fashion yang juga memiliki ‘outlet’ di beberapa negara, dikabarkan mulai melakukan pemutusan hubungan kerja terhadap karyawan-karyawannya, terutama di bagian perdagangan barang (merchandise).

Kabar adanya penerapan pajak di sektor e-commerce juga memaksa pemainnya untuk berfikir seribu kali agar usahanya terus langgeng dan bisa jadi malah mempercepat pecahnya gelembung e-commerce di Indonesia.

Tulisan ini dan informasi-informasi mengenai perkembangan ICT Indonesia lainnya dapat dibaca di Majalah ICT Edisi No. 12-2013 di sini