Search
Jumat 23 Januari 2026
  • :
  • :

Obituari Mengenang Arif Pitoyo

Oleh Hery Nugroho*

Setiap hidup yang terputus… adalah sekaligus sebuah piringan hitam yang pecah dan sebuah kehidupan yang lengkap. – Sartre (1905-1980) 

Di usia belia, 36 tahun, Arif Pitoyo pergi sebagai hidup yang komplet, tapi, nampaknya bukan piringan hitam yang mendadak remuk. Gramafon itu masih menyisakan suara, meski lirih dan tak terlalu jelas artikulasinya. Ketika seorang senior di dunia telekomunikasi, Dr. Mas Soewarso wafat, jurnalis muda ini menulis: momen sejarah di saat itu justru menghendaki agar “seorang pakar terus hidup”. Tapi, ketika giliran sang jurnalis muda itu meninggal, bisakah kita bicara sedemikian itu?

Begitu banyak orang yang terlalu berharap, tanpa pegangan yang kuat, bahwa jurnalis yang baik harus mampu menggapai ujung terowongan. Tapi, Arif Pitoyo agaknya tahu, bahwa di ujung terowongan itu pun nanti akhirnya kehidupan membatalkan jawaban yang paling cerdas. Setidaknya, kalau pun ia merasa telah menemukannya, ia tak kunjung meyakinkan. Ia tak lagi mau meyakinkan.

""Pertama kali saya mengenalnya, sosok yang lidahnya berlogat jawa pantura itu, selalu mengernyitkan alis dengan pertanyaan-pertanyaan lugu yang menusuk. Jurnalis belia yang tak malu menunjukkan ketumpulan kata-kata, yang seringkali tak precise di mata nara sumbernya. Ia yang tak malu itu lalu beranjak pintar, kemudian memuncak dalam sebuah kematangan. Ia tunjukkan langkah yang berbeda, di tengah gemuruh teknologi informasi yang penuh derau, yang seringkali tak menyisakan sedikit ruang untuk kejernihan. Ia luncurkan pertanyaan-pertanyaan penuh daya cerna, yang lalu ia sajikan kepada publik dalam sebuah cermin yang justru berbeda dengan habitatnya, jernih.

Seringkali saya tak begitu peduli, apakah ia tengah berbasa-basi ataukah sedang serius. Tetapi, saya adalah anak sulung yang memiliki kepekaan untuk membedakan antara ketulusan dan basa-basi (meski sebetulnya tidak perlu jadi anak sulung untuk merasakan soal ini). Saya, pada awalnya agak terkejut menjumpai karakter itu pada sosok Arif Pitoyo. Karena jurnalis desk telekomunikasi – kebanyakan – adalah sosok yang sangat teknis, dingin, sinis dan beku. Kehangatan dan kedekatan yang berbeda, baru saya temukan ketika ia sudah terasa sebagai adik, bertahun-tahun kemudian.

Ada dua babak, di mana saya berhadapan dengannya, dalam dua kapasitas yang berbeda. Pertama, ketika saya masih berada di lingkaran birokrasi, yang bersamaan dengan awal kariernya di desk telekomunikasi. Kami, sesungguhnya, saat itu “belajar bersama”. Saya yang masih awam dengan dunia praktis itu, tiba-tiba harus melakoni sebuah babak yang menuntut sebuah kesempurnaan. Dan itu mustahil, tanpa sorot lampu dan sodoran mikrofon yang merekam gerak sejarah. 

Arif Pitoyo, wartawan muda itu dan saya seringkali beriring, saling menuntun. Dari luar lingkaran ia mambawa isu, dan dari dalam lingkaran saya menyerapnya, mengolahnya sebagai dribble dalam sebuah permainan bola basket. Lalu kami berdua menceploskannya dalam sebuah dunk yang menghentak. Industri telekomunikasi, yang saat itu sedang dalam eforia kompetisi setelah puluhan tahun hidup dalam “ketenangan” monopoli, seakan menjadi ladang yang subur. Ladang itu menjanjikan ekspresi, keleluasaan, dan sekaligus tantangan untuk mengepak sayap ke level yang semakin tinggi.

Jurnalisme menemukan momentumnya. Ledakan industri yang memukau telah menjadi magnet bagi siapa pun. Dunia telko di negeri ini, yang semula adalah bilik sepi di jagad kewartawanan, kini mulai riuh. Isu regulasi dan dorongan kapitalisme yang kuat, menempatkan industri ini sebagai sosok yang jelita. Dan Arif Pitoyo, ikut menjadi saksi dan (bahkan) sebagai bagian dari proses kejelitaan itu.

Banyak isu yang telah ia angkat, banyak mata awam yang telah melek dibuatnya, sekaligus banyak kuping yang telah dibuat merah karenanya! Tapi semua itu terjadi dalam bingkai yang dinamis, kontekstual, dan konstruktif. Ia yang tak pernah marah ketika dimarahi, dan tak pernah balik menusuk ketika tusukan lawan menghujamnya. Dalam konteks inilah kala itu saya menemukan sparring yang tepat.

Kedua, setelah lulus dari tempaan birokrasi, saya keluar lingkaran dan mengambil posisi yang beda. Kulepas kostum wasit, dan kukenakan jersey pemain. Arif yang semakin matang itu tetap pada habitatnya. Sebuah dunia yang menuntut keberanian dan transparansi. Berbagai isu strategis di industri ini sangat sering kami diskusikan. Kami saling mencerca, saling “menghina”, bahkan tak jarang berbaku-pukul di media sosial. Dan itulah yang kami sepakati sebagai sebuah dinamika.

Di lain ketika, ia harus menjalani babak baru dalam hidupnya, tak ayal turbulensi itu sempat nyaris meruntuhkan ketegarannya. Saya selalu berkata: Orang lain boleh berbuat salah atau berlaku keliru, tetapi reaksimu harus benar !! Ia terkejut mendengar “petuah” itu. Dan kebenaran itu ia temukan setelah ia bisa melewati masa sulit itu dan menemukan tambatan baru.

Begitulah, sepuluh tahun berkenal telah membuat kami seperti saudara. Kami sangat sering terlibat dalam perseteruan pemikiran, mulai pergolakan di tataran konsep sampai dengan diskusi di level implementasi. Dan ternyata “perseteruan” itulah justru yang bisa menjadi wadah bagi kebersamaan kami. Maka ketika beredar kabar ia dirawat di ICU, saat itu saya cuma bisa terdiam. Bukan karena saya tak kuasa menjenguknya, tetapi saya tidak berani bertaruh, apakah saya siap melihat keadaannya dengan sakit yang tak pernah saya duga itu.

Arif Pitoyo memang tak sekaliber jurnalis Barbara Ward, yang sejurus setelah kematiannya segera disambut dengan tulisan obituari sepanjang lima halaman penuh pada koran tempat ia pernah mengabdi, The Economist, edisi 6 Juni 1981. Tapi tak apalah, guyonankami yang “keterlaluan” dulu, bahwa kami berlomba untuk menghadiahkan sebuah obituari bagi siapa di antara kami yang mendahului menyongsong kematian, kini telah menemukan bentuknya. Kubuat tulisan ini sebagai “pembayaran” atas utangku yang pernah kita kemas dalam candaan dulu.

Rif, selamat jalan, saya kirimkan doa terbaik dengan segenap apresiasiku. 

*Hery Nugroho. Mantan Anggota BRTI, kini Praktisi Telekomunikasi. Twitter @herylink