MAJALAH ICT – Jakarta. Pemerintah yang dalam hal Kementerian Komunikasi dan Informatika telah memberikan lampu hijau untuk Smart Telecom untuk pindah ke frekuensi 2,3 GHz agar tidak menimbulkan interferensi bagi operator-operator di frekuensi 2,1 GHz yang digunajan untuk teknologi 3G – UMTS. Frekuensi 2,3 GHZ yang saat ini mayoritas diisi untuk Broadband Wireless Access (BWA), yang sebelumnya menggunakan teknologi WiMax.
Rencana tersebut, kontan mendapat protes dari operator BWA yang ada. Bahkan dituding, ada sesuatu di balik itu. Seperti dikatakan Ketua Umum Asosiasi Penyelenggara Pita Lebar Nirkabel Indonesia (APPLNI) Duta Sarosa. Duta yang juga merupakan Direktur PT Berca Hardaya Perkasa, yang mendapat alokasi 14 lisensi BWA terkejut dengan langkah Kemkominfo yang sudah merampungkan kajian tanpa pernah mengajak bicara para operator BWA. "Saya hanya heran saja, kenapa pemerintah tidak pernah mengajak kami bicara. Kami menunggu, kapan pemerintah mau mengajak bicara," ujar Duta.
Sementara itu Direktur Jenderal Sumber Daya dan Perangkat Pos dan Informatika, M. Budi Setiawan, jika Smart Telecom pindah ke 2,3 GHz ini baik bagi semua dan juga Smart Teleom sendiri, karena terutama untuk rentang 2,1 GHz sekarang ini bisa lebih bersih dari interferensi. "Kita sedang memfinalisasi rencana kepindahan tersebut,” ungkap Budi.
"Namun, kita juga memperhatikan masukan yang berkembang di masyarakat. Saat ini memang di 2,3 GHz diduduki pemenang lelang WiMAx yang dapat menggunakannya untuk LTE karena sudah ada kebijakan netral teknologi,” katanya.

















