MAJALAH ICT – Jakarta. Media sosial kini ramai membahas pencapresan pasangan calon Prabowo Subianto – Hatta Rajasa dan Joko Widodo – Jusuf Kalla. Selain kampanye positif, yang meresahkan adalah maraknya kampanye yang saling menjatuhkan antara pasangan calon, yang disebut juga kampanye hitam. Badan Intelijen Negara beserta Kepolisian mulai memantau berseliwerannya kampanye hitam di internet khususnya di media sosial.
Direktur Eksekutif Indonesia ICT Institute Heru Sutadi menilai bahwa benar internet dan khususnya media sosial saat ini ramai akan kampanye hitam yang saling menjelek-jelekan dan menjatuhkan. "Sekarang banyak akun-akun baru, situs-situs baru yang membongkar jati diri masing-masing pasangan calon. Jika memang ada bukti atau berdasar fakta, tentu ini maish dapat diterima untuk mengungkap jejak rekam pasangan calon. Namun, yang meresahkan adalah banyak informasi yang tidak benar, dan yang berbahaya adalah kampanye hitam berbau SARA (suku, agama, ras dan antargolongan–red.)," terang Heru.
Menurut lelaki yang aktif mengkampanyekan penghentian kampanye hitam di internet dengan hashtag #stopkampanyehitam, agar tidak kemudian liar dan merugikan persatuan dan kesatuan bangsa, pihak BIN, Kepolisian dan Kementerian Kominfo perlu bekerja lebih keras mengungkap di balik semua akun itu.
"Akun-akun, apakah pseudonim, anonim, semua sudah jelas, tinggal diungkap saja siapa mereka. Dan ada akun-akun itu juga merupaka pemain lama dan terbiasa melakukan proganda menjelek-jelekan pihak-pihak tertentu. Yang sayangnya, juga tidak pernah terungkap," tandas Heru.
Selain media sosia, menurut pengamatannya, ada juga situs yang dibuat maupun akun di Facebook yang juga perlu diselidiki motivasi. "Bahkan mereka juga beriklan di Google, sehingga orang yang melakukan pencarian akan menemukan iklan link situs tersebut," pungkasnya.

















