Search
Kamis 23 Mei 2024
  • :
  • :

Pengamat: Situs Media Online Bodong Manfaatkan Subdomain Domain com–news.com

MAJALAH ICT – Jakarta. Hadirnya situs yang seolah-olah merupakan media online dari situs-situs terkenal di tanah air, memanfaatkan kondisi seakan media ini merupakan citizen jurnalism atau jurnalisme warga. Namun, media bodong berdomain com–news.com dan com.decik.com ini menurut pengamat laksana media cetak Obor Rakyat yang sempat hadir saat kampanye menjelang Pemilihan Presiden (Pilpres) lalu. 

Demikian disampaikan Pengamat Telematika Heru Sutadi. Menurut Heru, dari pantauannya, situs bodong akan media antara lain kompas.comantaranews.comdetik.comtempo.cotribunnews.com, beritasatu.com dan inilah.com, memang dibuat agar orang kebingungan mengenai informasi yang disampaikan, seolah-olah beritanya valid karena dari media kredibel. "Hanya kalau diteliti, situs ini memanfaatkan celah penggunaan subdomain dengan domain yang bereda. Domain aslinya adalah com–news.com. Kemudian dibuat beberapa subdomain seperti detik, liputan6, kompas dan lain-lain, sehingga akan trlihat seperti detik.com–news.com, liputan6.com–news.com maupun kompas.com–news.com. Ini kelihatan pada situs yang seharusnya tempo.co menjadi tempo.com–news.com," terang Heru.

Dijelaskan Direktur Eksekutif Indonesia ICT Institute ini, untuk mengantisipasi situs diblokir, pembuat situs telah menyiapkan domain lainnya, yaitu com.decik.com. "Mereka sudah menyiapkan domain lain jika situs ini ditutup, yaitu com.decik.com. Sehingga, misal beritasatu.com akan dibuat beritasatu.comdecik.com," ujarnya. Ditambahkannya, dari data Whois, situs ini ditengarai baru saja dibuat di bulan ini.

Heru menandaskan, persoalan palsu memalsu berita maupun hadirnya situs media online bodong tidak perlu terjadi jika Kementerian Kominfo sigap melihat. "Urusan perang di media sosial jelang Pileg, apalagi Pilpres, hadirnya akun anonym, tak perlu terjadi jika Kementerian Kominfo sigap sejak awal. Saya melihat ini ada pembiaran, sehingga kebablasan seperti ini. Kita tunggu saja reaksi Kementerian Kominfo bagaimana, sebab seperti dalam kasus Vimeo, yang digugat banyak komunitas kan mereka cepat bereaksi dengan menutupnya," pungkas Heru.