Search
Minggu 14 Juli 2024
  • :
  • :

Penyadapan Internet Oleh AS Dibolehkan

""

MAJALAH ICT – Jakarta. Soal penyadapan yang dilakukan National Security Agency (NSA) Amerika Serikat yang dilakukan berdasarkan pengadilan rahasia negara tersebut terhadap sejumlah raksasa Internet dunia, pakar Internet Onno W. Purbo angkat bicara.

Menurut dia, sebuah undang-undang atau  aturan berlaku berdasarkan negara tempat berada, termasuk di lokasi di mana server ditempatkan.

“Ya kalau servernya ada di Amerika Serikat, server tersebut harus menghormati hukum dan UU di Negara tersebut, meski pun yang pakai orang Indonesia atau negara lainnya sekalipun,” ujarnya, Senin (17/6).

Onno malah menyarankan pengguna Internet Indonesia jangan memakai yahoo.com atau gmail.com kalau tidak mau disadap, pakai webmail lokal saja seperti indo.net.id.

Sementara itu, menurut pakar hukum telekomunikasi UI Edmon Makarim, asal muasal Internet adalah hasil investasi pertahanan Amerika Serikat pada era perang dingin.

“Kemudian pada saat semaraknya keinginan untuk menuju standar komunikasi internasional yang aman dengan protokol komunikasi 7 layer, mereka melepaskan kepada publik keberadaan protokol komunikasi 4 layer tersebut (TCP/IP) dengan jargon tidak campurnya negara dalam jaringan komunikasi itu,” ujarnya.

Hal tersebut, lanjutnya, terasa semakin manis manakala dinyatakan bahwa yang paling berkuasa adalah komunitas itu sendiri, yakni komunitas global internet.

Dalam perkembangannya, semua pihak di negara berkembang seakan sangat senang mendapatkan suatu jaringan yang cepat dan meyakini bahwa Internet adalah medium komunikasi global yang akan memfasilitasi civil society menuju demokrasi yang lebih baik.

Ironisnya, tambah Edmon, harapan tersebut seakan mendapatkan tantangan manakala kita mendapati kenyataan bahwa NSA melakukan penyadapan kepada beberapa portal dunia di negara mereka.

“Hal tersebut tentu saja tidak dapat dipersalahkan karena mereka melakukannya dalam Yurisdiksi mereka, demi kepentingan nasional mereka dan sesuai kewenangan yang mereka miliki,” ujarnya.

Edmon mengungka[kan yang justru sebenarnya dapat dipersalahkan adalah pengguna sendiri,  mengapa menyerahkan data kepada sistem yang dikelola dan dipercayakan kepada mereka.