MAJALAH ICT – Jakarta. Masyarakat harus mendapatkan informasi yang akurat serta edukasi yang tepat tentang kebencanaan dan mitigasi kebencanaan melalui lembaga penyiaran. Peran ini sangat penting terlebih saat ini dimana kondisi sebagian besar wilayah di tanah air sedang dilanda cuaca ekstrem. Longsor dan banjir sewaktu-waktu menjadi ancaman.
“Karenanya, kami berharap dan meminta lembaga penyiaran menjadi penyampai informasi dan mitigasi tentang kebencanaaan ini kepada masyarakat. Tidak hanya soal berita kejadiannya, tapi juga hal-hal terkait dengan cara atau antisipasi sebelum terjadi hal-hal buruk yang akan menimpa seperti longsor atau banjir. Upaya strategis ini agar dapat melindungi mereka dan meminimalisasi adanya korban jiwa,” kata Komisioner KPI Pusat, Tulus Santoso, Senin (26/1/2026).
Ia menjelaskan, beberapa hal yang bisa dilakukan lembaga penyiaran yakni dengan menyampaikan pesan Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) secara cepat dan akurat. “Peringatan dini tentang hujan ekstrem serta potensi banjir dan longsor perlu disampaikan untuk mengingatkan masyarakat agar waspada dan bersiap diri,” ujar Tulus.
Selain pesan BMKG, edukasi dan literasi tentang kebencanaan sangat penting disampaikan. Pembelajaran ini untuk memastikan kesiapan dan respon masyarakat mengenai apa yang akan terjadi dan bagaimana langkah antisipasinya.
“Media harus aktif mengedukasi masyarakat semisal bagaimana memberitahu tanda-tanda longsor, apa saja barang penting untuk persiapan banjir, bagaimana proses evakuasi mandiri dan daerah atau wilayah mana yang rawan bencana,” jelas Tulus Santoso.
Namun demikian, pinta Tulus, lembaga penyiaran jangan terjebak dengan hal sensasional. Pasalnya, hal ini akan menimbulkan eksploitasi terhadap pemberitaan bencana.
“Kami tidak berharap infromasi lembaga penyiaran justru memicu kepanikan. Jangan pula menjadi penyebar berita hoaks dan yang tidak kalah pentingnya jangan menampilkan visual berlebihan. Jadi tetap pedomani aturan penyiaran (P3SPS) yang berlaku. Lembaga penyiaran juga ruang suara bagi publik yang artinya sebagai jembatan aspirasi warga yang terdampak,” tandasnya.
Berdasarkan laporan (BMKG) pada pekan lalu, diprediksi dalam beberapa hari ke depan cuaca di sebagian besar wilayah Indonesia mengalami hujan lebat. Hal ini disebabkan potensi peningkatan aktivitas monsun Asia disertai dengan Cross Equatorial Northerly Surge (CENS) yang diprediksi menguat, sehingga massa udara lembap lebih cepat dan mudah melewati ekuator menuju wilayah selatan Indonesia. Menurut BMKG, hal ini memberikan dampak pada peningkatan kejadian cuaca ekstrem di beberapa wilayah di selatan Indonesia, khususnya Sumatera Bagian Selatan, Jawa, Bali, dan Nusa Tenggara.

















