Search
Rabu 19 Mei 2021
  • :
  • :

Peringati Hari Hak Untuk Tahu, Menkominfo Ajak Gunakan Hak Bertanya

MAJALAH ICT – Jakarta. Peringatan Hari Hak untuk Tahu atau Right to Know Days merupakan momentum untuk mendorrng masyarakat mendapatkan informasi publik. “Saya imbau agar masyarakat jangan sungkan-sungkan untuk bertanya kepada badan informasi publik untuk mendapatkan informasi yang dibutuhkan,” kata Menteri Komunikasi dan Informatika dalam Peringatan Hari Hak Untuk Tahu Tahun 2018, di Lapangan Silang Monas, Jakarta,

Rudiantara menyatakan, keterbukaan informasi publik merupakan wujud karakter pelayanan dan penyampaian informasi kepada publik. Apalagi Indonesia sudah memiliki undang-undang, regulasi dan legislasi yang berkaitan dengan Keterbukaan Informasi Publik. 

“Bagi siapapun masyarakat di Indonesia, keterbukaan informasi publik ini bukan hanya sekadar standard operating procedures, bukan hanya sekadar tata cara. Tetapi dibalik itu ada karakter, tetapi kalau orang tidak punya keinginan atau passion  yang berkaitan bagaimana menyampaikan informasi kepada publik dan tentunya juga tidak akan berjalan dengan baik,” jelasnya.

Berkenaan dengan keterbukaan informasi, Menteri Kominfo menyampaikan status terakhir kejadian gempa dan tsunami di Palu dan Donggala, Sulawesi Tengah.  “Saudara-saudara kita di Sulawesi Tengah tidak semuanya kena tsunami, tapi yang parah tsunami terjadi di Palu. Itu boleh dikatakan sangat bergantung kepada banyak aktivitas,” ungkapnya. 

Rudiantara yang telah berkunjung ke Palu bersama Menkopolhukam, Panglima TNI, dan Menteri Sosial menggambarkan saat ini pegawai pemerintah daerah lebih concern dengan kondisi keluarga.

“Jadi masih memprioritaskan mengenai keberadaan dan keselamatan keluarganya. Korban meninggal sudah ratusan juga harus ditangani segera oleh pemerintah, korban yang luka juga demikian banyak dan ini belum terungkap semua karena di sana tidak ada alat berat,” jelas Menteri Kominfo. 

Lebih lanjut Rudiantara menjelaskan saat ini, daerah Palu secara logistik transportasi tidak semudah dijangkau seperti Lombok. “Kejadian gempa juga 2-3 bulan yang lalu (di Lombok, NTB), di mana bandara Praya bisa didarati oleh pesawat-pesawat. Sedangkan di Palu hanya pesawat-pesawat tertentu yang bisa masuk ke Palu,” ungkapnya. 




Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *