Search
Minggu 16 Juni 2024
  • :
  • :

Pernyataan Sekjen PKKRT ITB Dinilai Merugikan Indosat Ooredoo

MAJALAH ICT – Jakarta. Pernyataan Sekjen Pusat Kajian Kebijakan dan Regulasi Telekomunikasi (PKKRT) ITB, yang juga merupakan mantan Anggota Badan Regulasi Telekomunikasi Indonesia Ridwan Effendi mengenai untung dua kali Indosat Ooredoo dari pemberlakuan tarif interkoneksi yang baru, mendapat tanggapan keras dari Indosat. Apa yang disampaikan Ridwan dinilai Indosat merugikan.

Disampaikan Dayu Padmara Rengganis, juru bicara Indosat Ooredoo, apa yang dikatakan Ridwan melalu berbagai media dinilai merugikan karena menyebarluaskan kesan bahwa Indosat memanfaatkan interkoneksi untuk mencari keuntungan sebesar-besarnya dan tidak melakukan kewajiban membangun jaringan. Padahal, katanya, Indosat berkomitmen terus memperluas jangkauan layanan telekomunikasi ke seluruh Indonesia.

"Kami berkomitmen terus memperluas jangkauan layanan telekomunikasi ke seluruh Indonesia dan menghadirkan layanan yang semakin berkualitas dan terjangkau bagi seluruh lapisan masyarakat. Aktivitas kami dalam membangun telekomunikasi Indonesia merupakan bukti bahwa Indosat tetap memiliki karakter BUMN yang peduli dan selalu mengutamakan kesejahteraan rakyat," tegas Dayu.

Berikut ini, tanggapan lengkap Indosat yang membantah akan apa yang disampaikan Ridwan dalam pernyataannya:

Pertama, Indosat sepenuhnya menyadari biaya interkoneksi adalah wajiban yang berlandaskan UU No 36/1999 tentang telekomunikasi. Karena itu, bagi Indosat biaya interkoneksi yang diterima dari operator lain tidak ditargetkan sebagai sumber pendapatan, apalagi untuk memperoleh keuntungan.

Kedua, Indosat selalu memenuhi target pembangunan jaringan yang tercantum dalam izin penyelenggaraan dalam rangka terus memperluas jangkauan dan meningkatkan kualitas layanan. Dapat kami sampaikan bahwa pencapaian pembangunan Indosat senantiasa melampaui target yang ditetapkan pemerintah. Pernyataan bahwa operator swasta seperti Indosat enggan memenuhi kewajban pembangunan tidak berlandaskan fakta.

Ketiga, biaya interkoneksi merupakan settlement antaroperator, yang pada akhirnya dibebankan kepada pelanggan. Kami berkeyakinan bahwa biaya interkoneksi yang rendah akan mengurangi beban industri dan beban masyarakat. Penurunan biaya interkoneksi senantiasa terjadi dalam sepuluh tahun terakhir. Terbukti bawa industri terus berkembang, tarif ritel berangsur turun sehingga masyarakat yang mendapatkan keuntungan.

Keempat, Indosat berkomitmen memberikan layanan yang terjangkau kepada masyakarat. Ini dibuktikan dengan tarif Rp 1 per detik kepada pelanggan Indosat di luar Jawa untuk menelepon ke semua operator, jauh sebelum adanya penurunan biaya interkoneksi, sehingga pernyataan bahwa kami hanya mencari keuntungan semata dan tidak akan menurunkan tarif ritel sangat tidak berdasar.