Search
Sabtu 13 April 2024
  • :
  • :

Perseteruan Telkomsel – XL, Dibalik Konsolidasi XL-AXIS

MAJALAH ICT – Jakarta. Ramainya rencana konsolidasi XL- AXIS tak lepas dari kekhawatiran sejumlah operator, terutama Telkomsel yang khawatir bila pasarnya digerogoti perusahaan gabungan tersebut.

Bukan rahasia lagi, dengan frekuensi gabungan yang lebih besar, tentunya XL- AXIS bisa lebih bebas bergerak memberikan layanan data yang luar biasa dibandingkan operator lain seperti Telkomsel maupun Indosat. Hasil merger XL-AXIS akan menjadi kekuatan baru yang bisa melawan posisi operator-operator besar saat ini.

Sehingga tak heran bila beredar rumor bahwa ada operator yang berniat menggagalkan proses merger ini dengan ‘memanas-manasi’ pemerintah dan regulator agar mengambil semua atau sebagian frekuensi AXIS, sehingga merger ini batal.

Menanggapi rumor tersebut, sumber Majalah ICT, yang juga analis industri telekomunikasi dapat mengerti mengapa rumor tersebut beredar, karena persaingan industri telekomunikasi demikian ketat. “Soal APEC saja semua berebutan ingin menjadi yang terdepan, apalagi dengan penggabungan perusahaan atau merger,” katanya.

Terkait dengan upaya menggagalkan merger, menurutnya, ini merupakan strategi yang sejak awal sebenarnya sudah terlihat nyata. "Ada yang merasa terancam. Mempengaruhi pemerintah untuk mengagalkan merger ongkosnya lebih murah daripada harus mengakuisisi operator telekomunikasi lain,” ceritanya.

Telkomsel sendiri menegaskan tidak merasa terancam dengan rencana merger XL dengan AXIS. Demikian dikatakan Direktur Utama PT telkomsel, Alex J. Sinaga. “Kami terancam? Kecuali XL mengakuisisi Telkomsel, baru itu namanya mengancam,” kelakar Alex.

Kalaupun XL-AXIS bersatu, maka Telkomsel memang tetap akan berada di atas puncak klasemen perolehan pendapatan maupun jumlah penggunanya. Dihitung-hitung, saat ini, Telkomsel menguasai sekitar 50 persen pasar telekomunikasi seluler Indonesia. Dan kalaupun XL-AXIS melebur, maka penggabung XL-AXIS hanya akan menambah posisi di pasar hingga 28% saja.

Angka yang masih butuh waktu lama untuk menyamai Telkomsel yang diuntungkan secara historis karena menjadi operator seluler kedua Indonesia, setelah Satelindo, yang berdiri sekitar 18 tahun lalu. 

Hanya saja, yang dikhawatirkan Telkomsel adalah potensi XL yang akan bisa lebih maju cepat dengan kepemilikan frekuensi yang lebih banyak, jika bergabung nantinya

Inilah yang tidak diduga Telkomsel. Namun, tentunya jalan keluar masih banyak. Posisi PT Hutchison 3 Indonesia (3) masih bisa ‘digoyang’ untuk dijadikan partner. Namun karena 35% saham Telkomsel dimiliki Singapura, tentu urusan beli-membeli atau konsolidasi dengan operator lain juga tidak bisa dikatakan mudah. Apalagi, sebagai penghasil uang utama PT Telkom, setoran ke negara Indonesia dan Singapura menjadi faktor Telkomsel kurang bisa bergerak leluasa.

Tulisan ini dan informasi-informasi mengenai perkembangan ICT Indonesia lainnya dapat dibaca di Majalah ICT Edisi No. 17-2013 di sini