Search
Minggu 14 Juli 2024
  • :
  • :

Rakhmat dan Anindya Dikabarkan Duduki Komisaris BTEL

MAJALAH ICT – Jakarta. Kabar perombakan manajemen Bakrie Telecom ternyata sudah sampai ke publik. Rakhmat JUnaidi yang sejak NOvember 2012 menduduki Advisor Board of Director, disebut-sebut bakal menduduki jabatan Komisaris bersama ANindya Bakrie.

 

Adapun posisi presiden direktur masih belum diketahui secara pasti, menunggu rapat umum pemegang saham. Posisi saat ini, presiden direktur masih diduduki ANindya Bakrie sedangkan Chief Executive Officer dijabat Jastiro Arbi.

 

"Pengaturan posisi CEO tidak perlu melalui RUPS, sedangkan posisi dirut dan komisaris akan ditentukan di RUPS. Saya sendiri sama sekali belum tahu akan menduduki posisi apa pasca RUPS,"ujar Rakhmat JUnaidi.

 

Sunguh sangat disayangkan, Bakrie Telecom dengan merek dagang Esia harus terengah-engah untuk bisa terus memberikan layanan kepada pelanggannya di 2012. Bukan karena persaingan yang keras dengan operator lainnya, melainkan karena krisis keuangan internal.

 

Operator yang begitu fenomenal dengan tarif murah nya pada periode 2007-2009, dan banyak digunakan remaja dan kalangan menengah ke bawah kini terpuruk seperti tak berujung.

 

Dari sisi jumlah pelanggan, pertumbuhnnya memang cukup baik. Jumlah pelanggan mengalami peningkatan 2,7 persen dari 11,2 juta pelanggan di kuartal pertama 2012 menjadi 11,5 juta di kuartal kedua 2012 dan dilanjutkan menjadi 12,0 juta pelanggan di kuartal ketiga 2012 atau naik 4,5 persen dari kuartal sebelumnya. Khusus untuk pelanggan data, tercatat pada akhir September 2012, total pelanggan layanan data EVDO Bakrie Telecom meningkat signifikan.

Dibandingkan kuartal kedua 2012, Bakrie Telecom mencatat pertumbuhan pelanggan layanan EVDO sebesar 18,9 persen dari 306,3 ribu kuartal pertama menjadi 364,1 ribu di kuartal kedua 2012.

Sementara pertumbuhannya hingga akhir September 2012 tercatat sebesar 30 persen menjadi 474 ribu dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

 

Dari sisi kinerja keuangan, Kinerja keuangan BTEL pada mulai 2011 memburuk. Selama 2011, emiten Grup Bakrie ini mencatatkan kerugian bersih mencapai Rp 782,70 miliar. Di 2010, perseroan masih mencetak laba bersih Rp 9,97 miliar.

 

Kinerja keuangan PT Bakrie Telecom Tbk (BTEL) di sembilan bulan pertama yang berakhir 30 September 2012 semakin buruk dibandingkan torehan sembilan bulan pertama tahun 2011.Tak tanggung-tanggung, anak perusahaan Group Bakrie itu harus menanggung kerugian bersih sebesar Rp988,31 milyar.

 

Sepanjang 2012, tak banyak yang dilakukan Btel terkait program pemasarannya. Meski demikian, operator tersebut tetap memberikan berbagi program menarik, diantaranya esia max-d, yaitu modem Internet dengan free akses 2 bulan, ada juga esia bizmax, yaitu solusi audio conference dari semua operator.

 

Namun sepeninggal Erik Meijer ke Indosat, tak banyak lagi yang bisa dilakukan Bakrie Telecom terkait dengan program pemasarannya. Dari sisi regulasi pun, tak banyak nilai tambah yang didapat Esia, karena lisensi seluler pun tak kunjung didapatnya.

 

Untuk melakukan merger atau akuisisi pun sudah terlalu sulit bagi BTEL, mengingat operator lain tentunya enggan menanggung beban utang anak usaha Bakrie tersebut. Kini, akankah BTEL mengikuti langkah Bakrie Life yang akhirnya tergusur?(ap)