MAJALAH ICT – Jakarta. SmartFren Telecom, operator telekomunikasi yang mendapat perintah dari Tifatul Sembiring saat menjelang akhir jabatannya sebagai Menteri Komunikasi dan Informatika untuk pindah ke frekuensi 2,3 GHz, siap untuk menghadirkan layanan TD LTE. Dana Rp. 6 triliun pun siap digelontorkan untuk bersaing dengan Bolt yang telah lebih dulu menawarkan 4G LTE.
Bahkan potensi penguasaan spektrum SmartFren group akan lebih besar lagi, karena Smartfren yang ada di frekuensi 800 MHz siap mengakusisi frekuensi Bakrie Telecom sehingga nantinya akan memiliki 10 MHz frekuensi. Sejak lama memang strategi "dua kuda" dijalankan operator telekomunikasi yang awalnya berbasis CDMA ini.
Menurut Direktur Keuangan Smartfren Telecom Anthony Susilo, investasi sebesar Rp. 6 triliun saat ini dananya masih dicari. "Untuk dana investasinya kami sedang mencari pinjaman yang bunganya rendah. Kemungkinan bank luar negeri," katanya. Ditambahkan, secara total, dana yang harus digelontorkan menjadi lebih besar lagi karena investasi tersebut di luar biaya hak penggunaan (BHP) frekuensi. Smartfren telecom sendiri dikabarkan masih memiliki tunggakan cukup besar kepada pemerintah untuk BHP frekuensi.
Meski demikian Anthony optimis, Smartfren akan bisa menggelar TDD LTE di frekuensi 2,3 GHz tahun depan. Sedangkan FDD LTE di 800 MHz, nampaknya masih menunggu finalisasi rencana kerjasama dengan PT Bakrie Telecom Tbk. ""Nantinya karena jaringan BTEL akan kami kelola, mulai tahun depan kami yang bayar BHP. BTEL akan menjadi pemegang saham minoritas Kami, lebih dari 5%," ungkapnya.

















