Search
Jumat 21 Juni 2024
  • :
  • :

Solusi Desa Broadband Terpadu Masuki Penilaian Final

MAJALAH ICT – Jakarta. Solusi Desa Broadband Terpadu (SDBT) merupakan sebuah program kompetisi yang mengundang anak muda untuk memberikan solusi terhadap masalah yang dihadapi di desa tertinggal. Program ini dijalankan secara terpadu, mulai dari pengembangan solusi, penerapan, hingga pembinaan dan pendampingan yang mengikutsertakan komponen profesional dan masyarakat lokal yang relevan.

Dijelaskan Plt Kepala Biro Humas Kementerian Kominfo Noor Izza, program ini khusus ditargetkan untuk desa tertinggal, meliputi desa nelayan, desa pedalaman dan desa pertanian. Solusi yang dihasilkan adalah keterpaduan dari jaringan, perangkat, aplikasi dan pendampingan SDM untuk mencapai tujuan utama program SDBT. Tujuan utama dari program SDBT sendiri adalah meningkatkan hasil produksi mata pencaharian di desa, sembari memaksimalkan produk yang dihasilkan terjual baik di pasaran, memastikan ketika terjadi hal yang membahayakan masyarakat dapat menghubungi pihak berwenang secara real-time, termasuk ketika ada isu kesehat"Berdasarkan capaian yang ingin diraih tersebut, diharapkan para inovator muda mampu menyajikan solusi dan implementasi yang menggabungkan elemen jaringan, perangkat, aplikasi dan dukungan sistem. Dengan bersinerginya antara pemerintah, professional, dan kalangan inovator muda, akan mampu merealisasikan kesejahteraan bangsa secara menyeluruh karena salah satu indikasi kemajuan bangsa adalah saat seluruh warganya, hingga di elemen pelosok desa, mampu menikmati akses yang mudah untuk memenuhi kebutuhan ekonomi dan kesejahteraannya," jelasnya.

Ditambahkannya, proses yang saat ini sedang berjalan adalah pengembangan solusi oleh 23 peserta terseleksi setelah acara bootcamp. Acara bootcamp bertujuan untuk mempersiapkan 25 tim peserta yang lolos penyaringan tahap awal melalui sharing pengetahuan dan bimbingan dari para mentor agar para peserta dapat membuat prototype yang sesuai dengan kriteria yang diinginkan. Bootcamp ini dihadiri oleh 25 tim peserta dengan rincian 12 tim Solusi Desa Pertanian, 7 tim Solusi Desa Kenelayanan, dan 6 tim Solusi Desa Pedalaman. Bootcamp dihadiri juga oleh 18 mentor yang merupakan ahli di setiap bidangnya. Bootcamp ini dilaksanakan selama 3 hari mulai dari tanggal 24 Juni 2016 sampai dengan 26 Juni 2016.

Bootcamp hari pertama dibuka oleh Staf Khusus Menteri yang menekankan hasil yang diharapkan dari program Solusi Desa Broadband Terpadu, lalu dilanjutkan dengan persentasi dari setiap tim tentang solusi yang telah mereka buat untuk diberikan komentar, masukan, dan penilaian awal dari para juri dan mentor sebagai bahan mentoring di hari berikutnya.

Selanjutnya di hari kedua diberikan pemaparan mengenai kearifan lokal, UI/UX dan teknologi jaringan, lalu dilanjutkan dengan pelaksanaan konsultasi langsung dari setiap peserta ke mentor yang telah ditentukan sesuai dengan ketiga kategori (petani, nelayan, dan pedalaman). Setiap tim wajib untuk mengisi lembar asistensi yang akan ditandatangani oleh setiap mentor setiap kali tim tersebut selesai asistensi.

Pada hari ketiga bootcamp, setelah mendapat banyak masukan dari para mentor di hari pertama dan kedua, para tim melaksanakan presentasi untuk mensimulasikan prototype yang telah mereka buat di depan para juri dan mentor untuk diberikan komentar penyempurnaan agar solusi yang dihasilkan siap untuk dipresentasikan pada pameran dan penilaian final.

Setelah diberikan waktu sekitar 5 minggu untuk menyempurnakan solusi, 23 tim yang terpilih akan mempresentasikan solusi mereka di Presentasi Penilaian Final. Presentasi Penilaian Final akan dilaksanakan pada tanggal 2-3 Agustus 2016 dalam dua tahapan.

Tahap pertama tanggal 2 Agustus akan dilaksanakan agenda pameran yang berlokasi di Aula Panca Gatra, Lemhannas. 23 Tim peserta akan memamerkan solusi mereka di tiap-tiap booth yang telah disediakan. Acara tersebut akan dihadiri oleh Menteri Kominfo untuk berdiskusi dan melakukan simulasi secara langsung terhadap aplikasi dan solusi yang telah dibuat. Selain itu, Kominfo juga mengundang stakeholder terkait (Kementerian/ Lembaga terkait, ahli desa, komunitas desa, dan beberapa warga dari desa piloting) untuk melakukan uji coba solusi dan memberikan masukan melalui kuesioner agar dapat digunakan sebagai feedback oleh setiap tim. Kominfo juga mengundang publik dan media secara umum untuk menghadiri Pameran pada tanggal 2 Agustus 2016 di Aula Panca Gatra, Lemhannas.

Untuk Tahap kedua pada hari kedua tanggal 3 Agustus 2016, agenda yang akan dilakukan ialah penilaian final, acara tersebut akan dilaksanakan di Hotel Sofyan Betawi. Pada penilaian final ini setiap tim akan mempresentasikan aplikasi dan solusi yang telah mereka buat untuk diberikan penilaian akhir oleh para juri. Setelah semua tim mempresentasikan solusinya, para juri akan melakukan diskusi dan pembahasan untuk menentukan 6 solusi terbaik (2 Solusi terbaik untuk kategori Nelayan, 2 Solusi terbaik untuk kategori Pertanian, 2 Solusi terbaik untuk kategori Pedalaman) yang akan diimplementasikan di Desa Piloting.

Adapun tiga lokasi piloting implementasi 6 solusi terbaik yaitu Desa Meskom, Kec. Bengkalis,  Riau, yang terletak pada daerah perbatasan dimana sudah tersedia jaringan 3G dan jaringan listrik yang baik. Dalam satu kecamatan yang sama, sudah pernah dilakukan program pada tahun sebelumnya. Berdasarkan mayoritas mata pencaharian penduduk, merupakan desa dengan kategori Nelayan.

Kemudian, Desa Panca Karsa I, Kec. Taluduti, Gorontalo, yang terletak pada daerah tertinggal dimana sudah tersedia jaringan 2G dan jaringan listrik. Berdasarkan mayoritas mata pencaharian penduduk, merupakan desa dengan kategori Pedalaman. Serta, Desa Fatukbot, Kec Atambua, NTT, yang terletak pada daerah tertinggal dan perbatasan dimana sudah tersedia jaringan 3G dan jaringan Listrik. Berdasarkan mayoritas mata pencaharian penduduk, merupakan desa dengan kategori Pertanian. 

Piloting akan dilaksanakan dalam waktu sekitar dua minggu, dalam waktu tersebut selain dilakukan uji coba juga akan dilakukan penyempurnaan terhadap solusi yang telah dibuat berdasarkan fakta-fakta yang ditemukan di lapangan. Tindak lanjut dari pelaksanaan piloting adalah implementasi solusi secara massive di 500 lokasi desa terdepan, tertinggal, dan terluar (3T), yang akan bekerja sama dengan operator telekomunikasi pada tahun 2017.