Search
Selasa 25 Juni 2024
  • :
  • :

Solusi Kesehatan Digital Bantu Negara Berkembang Lampaui Negara Maju

MAJALAH ICT – Jakarta. Analisis PwC tentang perawatan kesehatan digital di negara berkembang menemukan bahwa meskipun model perawatan kesehatan digital seringkali terlalu mahal untuk diterapkan, namun lebih terjangkau menembus negara berkembang yang berpotensi memberikan sistem perawatan kesehatan dengan aksesibilitas, keamanan dan kualitas yang lebih baik.

Pergeseran ini menyebabkan meningkatnya tekanan terhadap sistem perawatan kesehatan di negara berkembang, yang juga sedang menghadapi tantangan yang disebabkan oleh infrastruktur yang masih terbatas dan kekurangan sumberdaya yang akut.

Pergeseran Menuju Kesehatan Digital

Solusi kesehatan digital tradisional seperti Rekam Kesehatan Elektronik (RKE) yang populer di negara maju – membutuhkan biaya pembelian, pemasangan dan pemeliharaan yang tinggi di awal. Oleh karena itu, pengadopsian sistem ini di negara berkembang terbilang sedikit.

Namun, solusi non tradisional  baru seperti RKE berbasis cloud atau open source RKE dapat membantu negara berkembang mendigitalisasikan rekam kesehatan dengan biaya murah. Untuk hasil terbaik, inovasi perawatan kesehatan lainnya seperti telemedicine, aplikasi mHealth dan resep dokter elektronik akan dibangun seputar RKE.

David McKeering, Partner, PwC South East Asia Consulting mengatakan, “Perawatan kesehatan digital dapat meningkatkan produktivitas institusi kesehatan secara drastis, dan berdampak positif pada hasil yang didapatkan pasien maupun pada institusi kesehatan. Jika biaya menjadi lebih terjangkau, perawatan kesehatan digital dapat menjawab tantangan yang dihadapi oleh negara berkembang untuk mewujudkan pertumbuhan yang berkelanjutan dan melampaui negara maju dalam memberikan perawatan kesehatan yang berkualitas, terjangkau, universal dan berpusat pada pasien.

“Berita baiknya adalah solusi baru yang terjangkau akan tiba di pasar. Dan dengan adanya pertumbuhan penetrasi internet dan ponsel pintar, infrastruktur teknologi yang ada saat ini dapat digunakan untuk mengembangkan solusi inovatif untuk memberikan jasa perawatan kesehatan.”

Beberapa contoh telah dapat dilihat di beberapa negara berkembang. Filipina telah menerapkan sistem open source rekam kesehatan elektronik untuk fasilitas kesehatan yang dikelola oleh pemerintah yang bernama CHITS. Dan terdapat dukungan yang kuat untuk membangun sistem cloud perawatan kesehatan baik di rumah sakit pemerintah maupun swasta di Malaysia dan Filipina.

Sementara itu, David Wijeratne, Growth Markets Centre Leader PwC mengatakan, "Manfaat perawatan kesehatan digital dapat dirasakan tidak saja oleh pasien. Dengan membantu pencegahan penyakit dan mendukung penyediaan perawatan kesehatan melalui lokasi alternatif seperti klinik, dokter dan suster baru yang perlu dilatih, tempat tidur tambahan dan pembangunan rumah sakit baru jumlahnya akan semakin sedikit, yang akan membantu mengurangi beban keuangan perawatan kesehatan secara keseluruhan di negara berkembang, sehingga memungkinkan negara-negara tersebut untuk mendanai aspek-aspek ekonomi penting lainnya. Seluruh negara dapat merasakan manfaat dari perawatan kesehatan digital.”

Tantangan

‘Perawatan kesehatan digital’ bukanlah soal teknologi, namun penciptaan cara baru untuk memecahkan permasalahan perawatan kesehatan, menciptakan pengalaman yang unik bagi pasien dan mengakselerasi pertumbuhan penyedia jasa perawatan kesehatan. Satu hal yang jelas: Digital akan terus ada – dan jika penyedia jasa perawatan kesehatan tidak bersiap, mereka akan tertinggal.

Mohammad Chowdhury, TMT Consulting Leader, Australia, SE Asia & NZ, menambahkan, “Di Indonesia, semakin banyak pasien yang menempuh perjalanan ke negara tetangga seperti Malaysia dan Thailand untuk mendapatkan jasa perawatan kesehatan yang lebih baik. Indonesia berupaya untuk memperluas program asuransi nasional hingga mencakup seluruh warga pada tahun 2019. Pada tahun 2015, negara ini mengalokasikan 5% APBN  untuk perawatan kesehatan. Namun, negara ini tengah menghadapi kekurangan pendanaan dan sumberdaya perawatan kesehatan. Negara ini membutuhkan 900 ribu tempat tidur rumah sakit tambahan dan 700 ribu orang dokter agar dapat memberikan perawatan kesehatan yang sebanding dengan negara OECD (Organization for Economic Cooperation and Development) lainnya. Untuk memastikan keberlanjutan program jaminan kesehatan nasional dalam jangka panjang, Indonesia perlu mencermati teknologi inovatif dan model bisnis yang disruptif.”

Sednagkan David McKeering, Partner, PwC South East Asia Consulting menyatakan, rumah sakit dan penyedia jasa perawatan kesehatan yang tidak dapat beradaptasi akan menghadapi risiko penurunan pendapatan karena konsumen akan beralih ke penyedia jasa lain yang dapat memenuhi kebutuhan mereka. "Mereka harus berupaya untuk mengintegrasikan dan menghubungkan sistem yang mereka miliki saat ini dengan teknologi digital baru dan menggabungkan data yang terkandung di dalamnya untuk menghasilkan wawasan yang berarti dan dapat dilaksanakan oleh tenaga kesehatan. Dalam era perawatan kesehatan digital baru, perawatan kesehatan digital tidak lagi menjadi sesuatu yang mewah, namun menjadi suatu keharusan bisnis yang mendasar,” kataya.

Agar dapat berhasil, para penyedia jasa dan pengelola perawatan kesehatan perlu menentukan strategi yang dapat memanfaatkan teknologi demi kepentingan dan keuntungan bersama seiring dengan langkah untuk membangun model pemberian jasa baru dengan pasien – bukan pertemuan dengan pasien, sebagai pusatnya.

Perusahaan yang akan muncul sebagai pemenang di pasar yang baru adalah mereka yang dapat menjabarkan bagaimana teknologi dapat menambah nilai, menyelaraskan insentif, berbagi dan menganalisis data secara strategis, dan menggerakkan, memperbanyak dan memperluas tenaga kerja mereka untuk menyambut sarana digital.