Search
Selasa 16 April 2024
  • :
  • :

Symantec: Kejahatan Cyber akan Makin Mengganas di 2014

MAJALAH ICT – Jakarta. Di bulan Oktober 2013, Symantec menyelidiki salah satu dari kebocoran data pelanggan terbesar di dunia dalam beberapa tahun terakhir. 150 juta identitas terekspos karena kebocoran data ini. Jumlah ini melebihi dua kali lipat data yang terpapar sepanjang tahun 2013, jika dibandingkan dengan jumlah sebelumnya hingga September 2013. Dari kebocoran data yang dilaporkan sejauh tahun 2013 ini, tiga informasi teratas yang terpapar adalah nama asli, nomer identitas pemerintahan dan tanggal lahir.

Demikian disampaikan Darric Hor, Country Director for Indonesia, Symantec Corporation. Menurut Darric Hor, kejahatan cyber juga muncul di berita utama tahun 2013 dan akan terus jadi masalah bagi konsumer dan perusahaan, baik perusahaan besar maupun kecil. "Baik itu ransomware, kejahatan cyber mobile, app cam, eksploitasi jaringan sosial ceruk, mata-mata perusahaan atau pindah dari ancaman cyber masal ke serangan yang lebih canggih dan terarah, tidak ada keraguan bahwa kejahatan cyber akan terus jadi masalah yang harus diwaspadai oleh konsumer dan perusahaan," katanya.

Karena itu, ditambahkannya, di 2014 ini serangan-serangan cyber ini semakin sulit untuk ditangani, lebih agresif dan lebih profesional seiring waktu. "Sekali penjahat melihat bahwa mereka bisa mendapatkan keuntungan lebih besar dari pemerasan jenis ini, kita mungkin akan melihatnya dalam bentuk-bentuk lain, seperti malware yang mengancam untuk dan benar-benar menghapus isi hard disk Anda. Ini adalah kasus serangan Shamoon yang terjadi Agustus 2013 dan menghapus data dari komputer yang terinfeksi," jelasnya dalam rilis yang diterima Majalah ICT.

Terkait dengan maraknya perangkat mobile atau bergerak, perlindungan informasi akan terus jadi topik hangat di tahun 2014. "Yang akan muncul adalah lanskap keamanan online yang semakin rumit karena konsumerisasi perangkat cerdas dan agregasi data perangkat yang terkoneksi. Perangkat-perangkat bergerak ini akan terkoneksi ke internet dan dalam beberapa kasus menjalankan sistem operasional yang telah tertanam," ujarnya.

Ditambahkannya, ancaman keamanan ini semakin tajam saat perusahaan belum membuat peraturan ketat mengenai penggunaan perangkat bergerak pribadi atau aset komputasi perusahaan, ini menempatkan baik karyawan maupun perusahaan dalam risiko yang lebih besar. "Gartner menyatakan bahwa kebanyakan perusahaan hanya memiliki peraturan bagi karyawan untuk mengakses jaringan melalui perangkat yang dimiliki dan dikelola hanya oleh perusahaan, dan menyarankan peraturan yang menyeimbangkan fleksibilitas dengan kerahasiaan dan persyaratan mengenai privasi," jelasn Hor.