MAJALAH ICT – Jakarta. Pengemudi taksi Uber akan menerima hukuman hingga 18 ribu Euro atau sekitar Rp. 270 juta dan dapat menyita mobil mereka berdasar undang-undang baru yang diberlakukan oleh pemerintah daerah Madrid. Langkah baru dipandang sebagai kemenangan yang signifikan bagi industri taksi di Spanyol, yang telah melobi melawan Uber sejak layanan diluncurkan di negara itu awal tahun ini.
Menjaid perdebatan bahwa pengemudi yang tidak memegang izin yang tepat tidak dapat menggunakan kendaraan mereka untuk mengangkut orang dengan tujuan komersial di bawah hukum Spanyol.
"Kami mengadakan pertemuan di mana kami menyatakan komitmen masyarakat untuk menjamin keamanan pengguna dan mencegah persaingan yang tidak sehat dan kami akan bekerja sama dengan taksi untuk memeriksa dan menghukum kendaraan Uber yang sudah beroperasi di bandara, telepon Uber atau aplikasi," kata Borja Carabante, wakil menteri Spanyol transportasi, infrastruktur dan perumahan, sebagaimana dilansir 20minutos.
Denda yang dikenakan akan berkisar dari 4 ribu Euro sampai 18 ribu dan akan diberlakukan oleh polisi setempat. Masih belum jelas bagaimana kendaraan yang beroperasi dengan Uber akan terlihat oleh otoritas ketika tidak ada tanda-tanda fisik yang membedakan mobil biasa dari mobil Uber.
Uber saat ini beroperasi di lebih dari 200 kota di 45 negara di seluruh dunia dan terus memperluas internasional meskipun perlawanan dari organisasi taksi lokal dan serikat pekerja.
Dalam sebuah wawancara dengan El Pais, Pendiri dan CEO Uber Travis Kalanick mengatakan bahwa sopir taksi harus melihat Uber sebagai peluang bukan ancaman. "Kami telah melihat sejumlah pengemudi taksi yang datang untuk uber untuk mendapatkan kehidupan yang lebih baik," kata Kalanick. "Sopir taksi yang datang ke kami mampu mendapatkan pendapatan rata-rata 10 ribu dolar per per tahun.
"Uber mewakili kemampuan untuk penduduk setempat untuk berkeliling kota mereka dengan setengah harga dari taksi. Selain itu juga menciptakan puluhan ribu pekerjaan, mengurangi kemacetan dan menyediakan lingkungan mobilitas yang lebih ramah. Jadi saya bertanya-tanya apa yang salah dengan semua ini."

















