MAJALAH ICT – Jakarta. Direktur Utama PT Telkom Arief Yahya, menyampaikan keberhasilan Telkom yang hingga tahun ini telah dapat melakukan ekspnasi usaha ke dunia international. Menurut Arief, sudah 10 negara yang dijejaki Telkom untuk mengembangkan usaha, yaitu Singapura, Hong Kong, Timor Leste, Australia, Myanmar, Malaysia, USA, Macau, Taiwan, dan Arab Saudi.
Menurut Arief saat Sidang Senat Terbuka V Telkom Corporate University yang mengambil tema "International Expansion Towards 10% Contributing Telkom Revenue in 2015", Being Global is an Imperative yang sudah menjadi keharusan, bukan hanya karena Masyarakat Ekonomi ASEAN yang sudah dihadapan mata, melainkan paradigma dan peradaban dunia sudah berubah ke Era Konseptual yang berbasis ide, konsep dan kreatifitas. "Oleh karenanya kita harus menyiapkan para Telkomers untuk menjadi Global Ready dan mampu bersaing di tengah gempuran Digital Company yang borderless," katanya.
Telkom Corporate University menjadi fondasi yang kokoh untuk mencetak para Global Talent dan menyiapkan Human Capital Global Readiness melalui program Telkom International Capability Center untuk menyiapkan 1.000 orang Global Talent pada tahun 2013 dan 400 orang Global Ready pada tahun 2014.
Oleh karena itu, ada dua flagship program yang menjadi pilar dari upaya bermetamorfosis menjadi a truly global company yaitu yang pertama adalah Global Talent Program (GTP), program pengembangan Human Capital berkualifikasi global melalui penugasan karyawan di luar negeri (overseas assignment) selama 3 bulan; dan kedua Program SUSPIM Internasional, program pengembangan Global Readiness untuk para Top Talent yang diukur dengan Global Mindset Inventor (GMI) dengan target GMI 3.2.
Pada kesempatan ini pula Arief yang juga Principal menyampaikan, dengan berkembangnya era ekonomi kreatif akan bertumpu kepada lahir dan tumbuhnya entrepreneur yang berbasis talenta, ide dan teknologi atau disebut dengan Teknopreneur. Seiring perubahan lanskap industri yang dipicu perkembangan teknologi dan gaya hidup, digitalisasi telah merubah bahkan meruntuhkan tatanan industri informasi dan ekonomi konvensional yang berbasis produksi dan distribusi fisik. Menjawab tantangan tersebut
Telkom sendiri, katanya, menetapkan Strategi SMART DISO (Spesific Mass-customization Aesthetics Reliable Trusted Digital Solution) sebagai framework dalam berinovasi dimana fokusnya ada dua yaitu pengembangan digital ecosystem (virtual network) dan physical planet (people network).
Dalam kesempatan itu dinyatakan pula, mengingat aktivitas di tahap incubator dan investment fund dibutuhkan pola pikir dan skill yang berbeda dengan kegiatan bisnis utama Telkom, maka Telkom memutuskan untuk membentuk Metra Digital Investama, yang berfungsi sebagai Corporate Venture Capital (CVC) untuk Telkom Group. Metra Digital Investama ini berada dibawah Telkom Metra, anak perusahaan Telkom yang fokus mengelola portofolio Information-Media-Edutainment Telkom Group.
"Dengan tujuan secara Mega, kita berharap bahwa pengembangan CVC akan membantu pengembangan industri kreatif nasional yang pada akhirnya mampu berkontribusi signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi nasional," ucap Arief.

















