Search
Jumat 23 Januari 2026
  • :
  • :

Twitter Bersedia Tutup Akun Palsu, Turki akan Buka Blokir

MAJALAH ICT – Jakarta. Tindakan Perdana Menteri Turki, Recep Tayyip Erdogan, yang memblokir akses masyarakatnya ke situs microblogging Twitter, tidak perlu berlama. Hal itu dapat terselesaikan setelah Twitter menyatakan siap bersedia untuk menutup akun-akun palsu di negara itu. Langkah Twitter merupakan jawaban atas kebijakan diambil pemerintah Turki karena Twitter menjadi media utama untuk menyebarkan informasi adanya korupsi di orang-orang terdekat Erdogan. Hal itu secara otomatis telah merusak reputasi pemerintah menjelang pemilihan umum lokal yang akan digelar pada awal April 2014.

Bahkan Twitter menangguhkan salah satu akun. Menteri Komunikasi, Transportasi dan Urusan Kelautan Turki, Lutfi Elvan mengatakan bahwa ia menganggap penangguhan akun oleh Twitter sebagai sebuah langkah positif. Apalagi, Pengadilan Turki telah memohon kepada Twitter untuk menutup akun palsu dan link yang dianggap melakukan pelanggaran privasi tapi Twitter enggan untuk melaksanakan keputusan pengadilan Turki tersebut.

Sejumlah warga Turki, termasuk penyair populer Ismet Ozel, telah mengajukan tuntutan hukum agar akun palsu yang dikaitkan dengan mereka ditutup. Namun, Twitter menunda tanggapannya, yang membuat marah pemerintah Turki yang kemudian menutup Twitter.

"Saya tidak peduli sama sekali dengan apa yang dikatakan komunitas internasional. Semua orang akan tahukekuatan Republik Turki," ungkap Erdogan mendeklarasikan pembllokiran Twitter. Dan pengguna yang ingin membuka situs twitter.com dialihkan ke sebuah laman yang berisi pernyataan "Pengadilan memerintahkan diberlakukannya upaya-upaya perlindungan atas situs tersebut."

Akibat keputusan tersebut, hashtag: #TwitterisblockedinTurkey dan #TurkeyBlockedTwitter pun menjadi trending topic di seluruh dunia.

Bukan hanya Twitter,  Pemerintah Turki juga berencana untuk menutup layanan jejaring sosial FaceBook dan Youtube. Rencana tersebut sendiri disampaikan Perdana Menteri Turki Recep Tayyip Erdogan.

Menurut Erdogan, hal itu dikarenakan banyak pihak-pihak oposisi yang tidak senang dengannya mencoba mempengaruhi masyarakat dengan mengunggah video dengan rekaman suara palsu yang seolah-olah itu adalah dirinya. "Kami tidak akan membiarkan bangsa ini dikuasai oleh YouTube dan Facebook. Kedua layanan itu kemungkinan disalahgunakan oleh musuh politik kami dan kami perlu mengambil tindakan tegas," tegas Erdogan. Erdogan menuding Facebook dan YouTube tidak bermoral dan melakukan mata-mata terhadap negaranya. 

Penutupan tersebut tidak sekadar penutupan saja, namun juga disertai larangan penggunaan dua aplikasi tersebut di sleuruh penjuru negeri Turki. Erdogan sendiri saat ini sedang dalam tekanan karena adanya unggahan percakapan palsu yang seolah-olah itu adalah dirinya.