Search
Selasa 21 Mei 2024
  • :
  • :

Waspadai, Korsel Kehilangan 12 Juta Data Pengguna Ponsel Karena Diretas Hacker

MAJALAH ICT – Jakarta. Data pengguna layanan telekomunikasi dan internet adalah privasi pengguna yang harus dilindungi penyelenggara telekomunikasi maupun internet. Dan setelah isu adanya penyadapan, data pengguna kini juga terancam akan ulah para hacker. Seperti terjadi di Korea Selatan, 12 juta data pengguna diretas.

Adapun operator yang menjadi korban peretasan adalah Korea Telecom (KT). Sebanyak 70 persen data pengguna raib da, data itu diketahui dijual ke sejumlah pedagang ponsel lokal di Korea Selatan.

Seperti dilansir Korea Times, menurut keterangan pihak berwenang Korea Selatan, hacker diyakini telah mencuri nomor telepon, alamat email, nama dan pekerjaan, hingga nomor rekening bank dari belasan juta korban pelanggan KT. "Kami meyakini, rincian data yang dicuri bisa lebih dari 12 juta pelanggan dan secara ilegal digunakan oleh pihak ketiga yang tidak disebutkan namanya,” ujar Kim Dong-woo, juru bicara KT.

Serangan internet tersebut menargetkan homepage pada website KT. Website tersebut biasanya digunakan pelanggan KT untuk login ke layanan operator. Juru bicara KT mengindikasikan, hacker menggunakan sebuah program hacking terbaru yang dikenal sebagai Pharos. Program tersebut diperkirakan telah digunakan hacker sejak Februari tahun lalu.

Pihak KT, saat ini sudah bekerja sama dengan badan Kepolisian Metropolitan Incheon guna menginvestigasi kasus serangan tersebut serta meminimalisirkan dampak. Saat ini, baru dua hacker profesional yang diduga menjadi sindikat kasus tersebut, yakni Kim dan Jeong.

Pihak kepolisian sendiri mengungkapkan, para hacker hacker mencuri data antara 200 ribu dan 300 ribu pelanggan tiap harinya sejak setahun terkahir. Data yang dicuri itu digunakan untuk membuka akun mobile baru dan menjual perangkat mobile.

Setelah data dicuri, hacker menjualnya ke sejumlah penjual smartphone lokal secara ilegal. Melalui penadah, data pelanggan lama kemudian dimodifikasi guna membuka akun baru. Akun baru tersebut lalu dintegrasikan ke smartphone yang akan dijual oleh sejumlah pedagang ponsel lokal. Diperkirakan, Rp. 110 miliar dapat dihasilkan para hacker dari jual beli data tersebut.