Search
Kamis 18 April 2024
  • :
  • :

Wawancara Khusus dengan Anggota BRTI Nonot Harsono Soal Kasus IM2-Indosat

Majalah ICT – Jakarta. Persoalan kasus dugaan penyalahgunaan frekuensi yang dialokasikan Indosat ke IM2 saat ini sedang dalam persidangan untuk terdakwa mantan Dirut IM2 Indar Atmanto, sementara untuk tersangka Jhonny Swandy Syam, korporasi Indosat dan IM2 dalam proses pemeriksaan oleh Kejaksaan Agung. Sehubungan dengan hal itu, Majalah ICT secara khusus melakukan wawancara dengan Anggota BRTI dua periode Nonot Harsono mengenai seputar kasus ini. Berikut ini hasil wawancara yang dilakukan:

Jenis usaha apa saja yang boleh dilakukan oleh PT IM2 dengan izin yang dimiliki?

Izin yang dimiliki PT IM2 dan lingkup usaha yang boleh dilakukan adalah Penyelenggara Jasa penyedia akses internet (ISP) dimana dengan izin ini, PT IM2 berhak menyediakan akses internet bagi masyarakat umum melalui jaringan milik penyelenggara jaringan, seperti jaringan tetap milik PT Telkom dan jaringan seluler milik PT Indosat.

Kemudian Penyelenggara Jasa interkoneksi internet (NAP) dimana dengan izin ini, PT IM2 berhak menjadi titik penghubung antara pelanggan ke Internet global (sebagai gerbang NKRI ke Internet). Dengan izin ISP, melalui jaringan seluler milik Indosat, PT IM2 menjadi penghubung pelanggan ke NAP IM2. Lalu dengan izin NAP, PT IM2 menghubungkan pelanggannya ke Internet. Dengan skema ini, Indosat diuntungkan karena jaringan selulernya terpakai dan IM2 mendapatkan ongkos jasa sebagai penghubung. Dan juga IM2 memiliki ijin Penyelenggara Jartup. 

Dengan izin ini, PT IM2 berhak menyediakan jaringan penghubung antar beberapa tempat atau perusahaan. Jaringannya bisa dibangun sendiri atau menggunakan jaringan milik penyelenggara jaringan lainnya. Meski tidak membangun sendiri jaringan, namun karena usaha yang dilakukan adalah menyediakan jaringan untuk penggunanya (biasanya korporat), maka PT IM2 harus memiliki izin penyelenggaraan Jartup.

IM2 juga punya ijin Penyelenggara Jartaplok-packet-switched melalui BWA. BWA atau broadband wireless access adalah jaringan akses yang khusus untuk menghubungkan pelanggan ke layanan Internet. Posisi dan fungsinya sama dengan jaringan akses radio antara pelanggan seluler ke BTS milik penyelenggara jaringan seluler, namun menggunakan teknologi yang berbeda. Dengan izin ini, PT IM2 harus menggelar sendiri jaringan BWA-nya di wilayah yang dinilai akan menguntungkan.

 

Apakah PT IM2 sebagai ISP telah menggunakan pita frekuensi radio yang ditetapkan untuk PT Indosat melalui lelang pita 2100MHz pada tahun 2006?

Tidak dan tidak mungkin. IM2 tidak menggunakan pita frekuensi yang telah ditetapkan untuk PT Indosat. Tidak pernah ada indikasi adanya sinyal 3G berlabel IM2 di handphone saya. PT IM2 menggunakan jaringan seluler 3G milik Indosat yang beroperasi di pita frekuensi 2.1GHz. PT Indosat membangun dan mengoperasikan jaringan seluler 3G pita 2.1 GHz seperti juga PT Telkomsel, PT XL-Axiata, PT HCPT, dan PT Axis. PT Indosat juga membangun jaringan seluler 3G di pita frekuensi 900MHz karena teknologi seluler generasi kedua (2G) sudah mulai kedaluwarsa.

PT IM2 tidak mungkin menggunakan pita frekuensi yang ditetapkan untuk Indosat karena alasan, pertama, tidak mungkin IM2 membangun ribuan BTS di seluruh Indonesia hanya untuk menyediakan akses Internet dan kedua, IM2 sebagai penyelenggara Jasa ISP tidak perlu membangun jaringan seluler sendiri, karena UU Telekomunikasi menjamin hak penyelenggara jasa untuk menggunakan (memanfaatkan) jaringan milik penyelenggara telekomunikasi.

 

Apakah PT Indosat Tbk telah mengalihkan hak penggunaan pita frekuensi radionya kepada PT IM2?

Tidak dan tidak mungkin. Tidak pernah ada indikasi adanya sinyal 3G berlabel IM2 di handphone saya. PT Indosat Tbk sebagai penyelenggara jaringan bergerak seluler tidak mungkin mengalihkan hak penggunaan pita frekuensi yang diperoleh melalui lelang 2006 karena tidak ada satupun alasan ekonomi atau teknis yang mendukung sangkaan itu. Mengalihkan kepada pihak lain saja tidak mungkin apalagi mengalihkan kepada anak perusahaannya sendiri, karena PT IM2 tidak mungkin mampu membangun jaringan seluler 3G di seluruh Indonesia dan sungguh akan tidak ada gunanya andai pun mampu melakukannya.

 

Apakah PT IM2 dan PT Indosat Tbk telah melakukan praktek penggunaan bersama pita frekuensi radio?

Tidak dan tidak mungkin. Tidak pernah ada indikasi adanya sinyal 3G berlabel IM2 di handphone saya. Secara teknis pita frekuensi 2.1GHz yang lebar 1-blok-nya hanya 5 MHz itu TIDAK MUNGKIN digunakan secara bersama, karena teknologi jaringan seluler generasi ketiga (3G) membutuhkan lebar pita minimal 5 MHz. Meski ada teknologi yang dapat diterapkan untuk melakukannya, namun secara teknis dan ekonomis amat tidak layak untuk dilakukan. Sungguh tidak mungkin siapapun membangun jaringan seluler generasi 3G menggunakan pita frekuensi yang hanya selebar 5MHz dibagi berdua atau hanya selebar 2,5 MHz.

 

Lalu mengapa ada perbedaan pandangan antar Kejaksaan dan Kemkominfo?

Inti dari perkara ini amat sederhana, yaitu dikiran menggunakan frekuensi yang disebabkan oleh ketidakpahaman bahwa frekuensi adalah besaran teknis dari suatu jaringan radio, sehingga dipahami salah sebagai “benda” yang terpisah dari jaringan telekomunikasi. Akibatnya, kalimat “menggunakan jaringan seluler 3G pita frekuensi 2.1GHz” yang merupakan satu-kesatuan dipilah menjadi “menggunakan jaringan seluler 3G” dan “menggunakan frekuensi 2.1GHz”. Selain itu juga ketidaktahuan bahwa secara teknis pita frekuensi 2.1GHz yang lebar 1-blok-nya hanya 5 MHz itu TIDAK MUNGKIN digunakan secara bersama. Perbedaan pandangan juga diakibatkan ketidakpahaman bahwa izin usaha yang dimiliki PT IM2 adalah izin usaha untuk 4 jenis usaha yang berbeda (untuk fungsi telekomunikasi yang berbeda), sehingga penyediaan akses internet (ISP) disejajarkan dengan penyelenggaraan jaringan tertutup, padahal fungsi keduanya berbeda.