Search
Rabu 24 Juli 2024
  • :
  • :

Rumitnya Merger XL-AXIS – Bagian 3

MAJALAH ICT – Jakarta. PT XL Axiata Tbk (XL) sepakat untuk mengakuisisi PT Axis Telekom Indonesia (AXIS), melalui penandatanganan Perjanjian Jual Beli Bersyarat (Conditional Sales Purchase Agreement  – CSPA) dengan Saudi Telecom Company (STC) dan Teleglobal Investment B.V. (Teleglobal), yang merupakan anak perusahaan STC. Namun begitu, pengambilan AXIS hanya akan terjadi bila spektrum yang dialokasikan AXIS tidak diambil pemerintah. 

Saat ini, beredar rumor bahwa ada operator yang berniat menggagalkan proses merger ini dengan ‘memanas-manasi’ pemerintah dan regulator agar mengambil semua ata sebagain frekuensi AXIS, sehingga merger ini batal. Pasalnya, hasil merger XL-AXIS akan menjadi kekuatan baru yang bisa melawan posisi operator-operator besar saat ini.

Menanggapi rumor tersebut, sumber Majalah ICT, yang juga analis industri telekomunikasi dapat mengerti mengapa rumor tersebut beredar. "Persaingan industri telekomunikasi demikian ketat. Soal APEC saja semua berebutan ingin menjadi yang terdepan, apalagi dengan penggabungan perusahaan atau merger," katanya.

Menurut sumber yang juga mengetahui perkembangan pembahasan merger ini, sejak lama XL selalu diincar untuk dipatahkan strateginya dengan menggunakan tangan-tangan regulator. "Waktu lelang blok tambahan 3G, sempat ada usulan agar XL tidak dapat frekuensi tambahan dan diberikan pada operator lain, sehingga operator lain mendapat dua blok," katanya.

Terkait dengan upaya menggagalkan merger, menurutnya, ini merupakan strategi yang sejak awal sebenarnya sudah terlihat nyata. "Ada yang merasa terancam. Mempengaruhi pemerintah untuk mengagalkan merger ongkosnya lebih murah daripada harus mengakuisisi operator telekomunikasi lain," ceritanya.

Telkomsel sendiri menegaskan tidak merasa terancam dengan rencana merger XL dengan AXIS. Demikian dikatakan Direktur Utama Pt telkomsel, Alex J. Sinaga. "Kami terancam? Kecuali XL mengakuisisi Telkomsel, baru itu namanya mengancam," kelakar Alex.

Di satu sisi benar yang disampaikan Alex. Kalaupun XL-AXIS bersatu, maka Telkomsel tetap akan berada di atas puncak klasemen perolehan pendapatan maupun jumlah penggunanya. Dihitung-hitung, saat ini, Telkomsel menguasai sekitar 50 persen pasar telekomunikasi seluler Indonesia. Dan kalaupun XL-AXIS melebur, maka penggabung XL-AXIS hanya akan menambah posisi di pasar hingga 28% saja. Angka yang masih butuh waktu lama untuk menyamai Telkomsel yang diuntungkan secara historis karena menjadi operator seluler kedua Indonesia, setelah Satelindo, yang berdiri sekitar 18 tahun lalu. 

Hanya saja, yang dikhawatirkan Telkomsel adalah potensi XL yang akan bisa lebih maju cepat dengan kepemilikan frekuensi yang lebih banyak, jika bergabung nantinya. Inilah yang tidak diduga Telkomsel. Namun, tentunya jalan keluar masih banyak. Posisi PT Hutchison 3 Indonesia (3) masih bisa ‘digoyang’ untuk dijadikan partner. Namun karena 35% saham Telkomsel dimiliki Singapura, tentu urusan beli-membeli atau konsolidasi dengan operator lain juga tidak bisa dikatakan mudah. Apalagi, sebagai penghasil uang utama PT Telkom, setoran ke negara Indonesia dan Singapura menjadi faktor Telkomsel kurang bisa bergerak leluasa.